TAHUNA — Guncangan gempa Filipina yang mencapai magnitudo 7,7 terasa sangat kuat di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Senin pagi. Getaran yang berlangsung beberapa detik itu langsung membuat warga berhamburan keluar rumah, bersamaan dengan peringatan dini tsunami yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Situasi paling mencekam terjadi di RSUD Liun Kendage Tahuna. Para perawat dan dokter langsung bergerak mengevakuasi seluruh pasien rawat inap keluar gedung. Proses evakuasi berlangsung cepat di tengah kekhawatiran akan adanya gempa susulan.
Di luar rumah sakit, pemandangan serupa terjadi di seluruh penjuru kota. Warga yang panik memilih mengungsi ke dataran tinggi dengan membawa perlengkapan seadanya. Sebagian besar menggunakan sepeda motor, sementara yang lain memilih berjalan kaki menuju perbukitan.
Kepanikan warga bukan tanpa alasan. Peringatan dini tsunami dari BMKG menjadi pemicu utama evakuasi massal tersebut. Pengalaman terhadap bencana serupa di masa lalu membuat warga Sangihe sangat responsif terhadap peringatan dini, terutama yang tinggal di pesisir pantai.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa atau kerusakan bangunan akibat gempa. Namun, Pemkab Kepulauan Sangihe telah menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat proses koordinasi penanganan dan evakuasi jika diperlukan.
Sejumlah warga dilaporkan masih bertahan di titik-titik pengungsian di perbukitan hingga beberapa jam setelah gempa. Mereka menunggu kepastian bahwa kondisi sudah benar-benar aman untuk kembali ke rumah masing-masing.
Pemerintah daerah bersama BPBD setempat terus melakukan pemantauan dan pendataan dampak gempa. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan tidak kembali ke rumah sebelum dinyatakan aman oleh otoritas terkait.