SULAWESI UTARA — Yayan menjelaskan, keputusan mempertahankan harga Pertamax sudah bisa diramal berdasarkan model yang mengacu pada formula pemerintah dan perilaku Pertamina sebagai penentu harga. Menurut hitungannya, ketika Pertamax dinaikkan menjadi Rp 16.250 pada Juni lalu, angka tersebut sebenarnya masih berada di bawah harga yang disiratkan formula karena harga produk BBM dunia saat itu sedang sangat tinggi.
“Pertamina menyerap kerugian ketika itu, sehingga saat harga minyak turun, margin tersebut dipulihkan dengan menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya,” ujar Yayan, dikutip dari Antaranews, Sabtu (3/7).
Strategi ini membuat Pertamina menunda penyesuaian harga demi memulihkan margin yang sempat tergerus. Alhasil, penurunan harga minyak dunia saat ini tidak serta-merta dirasakan konsumen di pompa bensin.
Untuk bulan depan, formula dasar memang mengarah pada harga Rp 13.700 per liter. Namun, pendekatan smoothing memperkirakan harga berada di kisaran Rp 16.000 per liter atau tak jauh berbeda dibandingkan nominal saat ini.
Yayan menegaskan, harga BBM nonsubsidi tak semata-mata mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia. Ada sejumlah variabel lain yang turut memengaruhi keputusan akhir Pertamina.
Apabila Pertamax langsung diturunkan mengikuti formula, manfaat utamanya adalah penurunan inflasi sekitar 0,4 poin persentase dalam tiga bulan. “Jika Pertamax dipangkas ke formula, estimasi pass-through kami menyiratkan sekitar 0,4 poin persentase dari inflasi selama tiga bulan (pelonggaran tahunan dari 3,34 persen menuju sekitar 2,9 persen),” jelas Yayan.
Sebaliknya, jika harga dipertahankan, seluruh penurunan minyak mengalir ke anggaran dan pemulihan margin Pertamina. Sementara itu, beban subsidi pemerintah terhadap Pertalite dan Solar tetap menjadi komponen terbesar dalam anggaran.