SULAWESI UTARA — Kesalahan pengiriman ini terkuak setelah puluhan konsumen melayangkan protes ke media Australia. BYD Australia melalui Direktur Hubungan Masyarakat Paul Ellis menyatakan tidak ada niat menipu dalam kasus ini. "Itu adalah kesalahan administratif yang terjadi. Tidak ada niat menipu," kata Ellis kepada ABC News, Sabtu (11/7), dikutip Carscoops.
Ellis memastikan secara teknis tidak ada perbedaan signifikan antara unit 2025 yang terlanjur dikirim dengan versi 2026 yang dipesan. Mayoritas unit terdampak adalah Atto 2 dan Atto 3. Namun, masalahnya terletak pada nilai depresiasi—kendaraan model 2025 otomatis kehilangan nilai jual lebih cepat begitu memasuki tahun 2026.
Menurut penjelasan BYD, sistem internal perusahaan keliru mencatat tanggal kendaraan meninggalkan pabrik sebagai tanggal produksi. Data yang salah ini kemudian terbawa ke dokumen penjualan hingga ke tangan konsumen. Akibatnya, pembeli menerima surat kendaraan yang menuliskan tahun produksi 2025, bukan 2026 seperti yang tercantum dalam kontrak awal.
CarsGuide menduga tekanan target pengiriman menjadi pemicu utama. General Manager BYD Asia Pacific Liu Xueliang sempat menjanjikan kedatangan 30 ribu unit ke Australia hingga akhir Juni 2025 untuk memenuhi lonjakan permintaan. Dugaan kuat, sejumlah stok lama ikut terkirim dalam proses pengejaran target tersebut.
Awalnya BYD hanya menawarkan AU$1.100 atau setara Rp13,7 juta (kurs Rp12.493,68) per unit. Nilai ini dinilai tidak sebanding dengan potensi kerugian konsumen saat menjual mobil bekas. Setelah tekanan media meningkat, BYD me