SULAWESI UTARA — Banjir yang merendam kampus di Qinzhou, Guangxi, awalnya hanya bisa direspon dengan perahu karet dan perahu cepat. Setiap perjalanan hanya mampu mengangkut sedikit orang, membuat proses evakuasi berjalan lambat. Titik kritis terjadi ketika Grup Konstruksi Anneng, perusahaan khusus penyelamatan darurat, mengerahkan tiga tongkang modular bertenaga sendiri ke lokasi kejadian.
Tongkang yang digunakan memiliki panjang 60 meter, lebar 8 meter, dan berat lebih dari 60 ton. Setiap unit mampu mengangkut lebih dari 500 orang per perjalanan dengan kecepatan maksimum 10,8 km/jam.
Keunggulan utama kapal ini terletak pada desain modularnya. Komponen dapat diangkut secara terpisah dan dirakit di lokasi dalam waktu lebih dari 10 menit. Hal ini memungkinkan pasukan penyelamat merespons daerah terisolasi dengan cepat tanpa harus menunggu infrastruktur jalan pulih.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyebut tongkang tersebut sebagai "mesin transformasi kehidupan nyata China" karena kemampuannya menjalankan berbagai fungsi dalam satu kendaraan. Menurut Anneng Construction Group, kapal ini dirancang untuk mengangkut kendaraan dan alat berat dalam situasi banjir parah atau ketika akses darat terputus total.
Pabrikan kapal, Harzone—anak perusahaan China State Shipbuilding Corporation (CSSC)—menyatakan kapal dapat beroperasi di daerah pegunungan hingga ketinggian 3.300 meter di atas permukaan laut dan kawasan beriklim dingin. Sejak 2020, jenis kapal penyelamat serbaguna ini telah digunakan dalam berbagai operasi darurat di seluruh China.
Setelah tiga tongkang dikerahkan pada malam 8 Juli, kecepatan evakuasi meningkat signifikan. CCTV melaporkan bahwa pada siang hari berikutnya, seluruh mahasiswa dan guru telah berhasil dipindahkan ke tempat aman.
Operasi ini menjadi salah satu penyelamatan terbesar di Guangxi selama musim banjir tahun ini. Keberadaan tongkang modular menjadi faktor kunci yang mempersingkat waktu evakuasi dari yang diperkirakan berhari-hari menjadi hanya beberapa jam.