Salindeho menuturkan, Gubernur Yulius Selvanus mendorong tiga strategi utama merespons derasnya arus otomatisasi yang mengancam pekerjaan konvensional. Strategi itu mencakup peningkatan keterampilan tenaga kerja lewat program upskilling dan reskilling, adopsi teknologi cerdas di berbagai sektor, serta penguatan ekosistem kewirausahaan.
“Semua itu dapat dicapai dengan strategi peningkatan keterampilan, adopsi teknologi cerdas, serta penguatan sektor kewirausahaan,” ujar Salindeho di hadapan peserta diskusi.
Salindeho menambahkan, Dinas Tenaga Kerja kini bertindak lebih proaktif dalam menyediakan program pelatihan bagi calon tenaga kerja. Langkah ini menyasar langsung generasi muda, terutama lulusan baru atau fresh graduate, yang kerap kesulitan menembus pasar kerja.
“Disnaker juga mempermudah akses bagi generasi muda dalam menggunakan sistem informasi ketenagakerjaan terpadu. Tujuannya untuk memetakan kebutuhan tenaga kerja secara riil di Sulut,” jelasnya.
Forum diskusi “Ngopi Bareng JIPS” yang digelar di Kantin PKK Kantor Gubernur Sulut menjadi wadah bagi para pemangku kepentingan untuk bertukar pikiran mengenai masa depan ketenagakerjaan di daerah. Acara ini menyoroti pergeseran landskap industri yang membuka pintu bagi kesempatan baru berbasis digital dan berkelanjutan.
Menurut Salindeho, tantangan hilangnya pekerjaan konvensional justru menjadi momentum untuk menciptakan lapangan kerja baru yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Pemerintah provinsi berkomitmen terus menggenjot kualitas SDM demi mewujudkan Sulawesi Utara yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan.