SULAWESI UTARA — Angka terbaru dari Tesla justru menunjukkan kontradiksi dengan ambisi besar perusahaan di sektor kendaraan otonom. Alih-alih tumbuh, jumlah mil perjalanan berbayar yang ditempuh armada Robotaxi justru menyusut signifikan pada periode April-Juni 2026.
Berdasarkan grafik yang dirilis Tesla, Rabu (22/7), total mil berbayar yang dikumpulkan sejak Agustus 2025 hingga Juni 2026 memang menunjukkan tren naik. Namun, angka itu bersifat kumulatif. Saat dipecah per kuartal, realitanya berbeda: Tesla hanya mencatat 700.000 mil di Q2 2026, turun drastis dari 1,1 juta mil di Q1 2026.
Penurunan ini terjadi meski Tesla memperluas operasi ke enam kota di Texas dan Florida. Armada yang digunakan adalah Model Y—sebagian beroperasi tanpa pengemudi pengawas (unsupervised), sebagian lagi masih dengan pengawas.
Dalam konferensi pers hasil kuartal kedua, Elon Musk membuat pengakuan yang mengejutkan. Ia mengatakan Tesla harus "mengumpulkan data berkendara spesifik untuk Cybercab" sebelum bisa menambah jumlahnya di jalan raya secara massal.
"Tidak seperti Model 3, Model Y, dan kendaraan lain yang sudah jutaan unit di jalan, kami belum punya data sebanyak itu untuk Cybercab," ujar Musk. Ia menambahkan bahwa Tesla saat ini sedang mengkalibrasi chassis Cybercab dengan memasang setir, pedal akselerasi, dan rem pada unit-unit uji.
Pernyataan ini kontras dengan klaim Tesla selama bertahun-tahun bahwa hampir 10 juta mobil pelanggannya diam-diam mengumpulkan data untuk melatih sistem otonom—termasuk Full Self-Driving (FSD). Kini, Tesla mengakui data dari model lain tidak cukup untuk Cybercab.
Selama bertahun-tahun, Tesla selalu menyebut hambatan terbesar untuk robotaxi adalah regulasi. Kini, perusahaan justru mengakui bahwa membuktikan keamanan sistemlah yang jadi penghalang utama.
Musk secara eksplisit menyebut kekhawatirannya pada pemberitaan negatif. "Di AS saja ada 30-40 ribu kematian akibat kecelakaan mobil per tahun, dan hampir tidak ada yang jadi berita utama. Tapi jika kami melukai satu orang saja, itu akan jadi headline global dan regulator akan segera menindak," katanya.
Ashok Elluswamy, VP AI Tesla, mengklaim armada Robotaxi telah menempuh "lebih dari 380.000 mil" tanpa operator pengawas dan tanpa "insiden berarti." Namun, ia tidak mendefinisikan apa yang dimaksud dengan "insiden berarti."
Data dari National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) menunjukkan Tesla telah melaporkan 22 kecelakaan dalam setahun terakhir sejak uji coba Robotaxi dimulai. Sebagian besar merupakan tabrakan dari kendaraan lain yang menabrak robotaxi Tesla.
Namun, tiga kecelakaan disebabkan oleh teleoperator yang menggerakkan kendaraan dari jarak jauh. Beberapa insiden lain melibatkan robotaxi menabrak trotoar, tiang listrik, dan bak truk derek pada kecepatan rendah.
Kabar ini memperburuk tekanan pada Tesla. Laba dari bisnis inti perusahaan juga di bawah ekspektasi Wall Street. Akibatnya, saham Tesla anjlok lebih dari 13% pada perdagangan awal Kamis (23/7).
Meski masih dalam tahap awal, Tesla justru memilih momen ini untuk kembali mempromosikan pendekatan otonomnya yang tidak menggunakan radar atau lidar—berbeda dengan Waymo yang menjadi pemimpin industri. Namun, data menunjukkan pendekatan tersebut belum terbukti mampu mendorong pertumbuhan layanan robotaxi secara berkelanjutan.