MANADO — Bencana hidrometeorologi yang menerjang Kabupaten Kepulauan Sangihe pekan lalu tidak hanya terjadi di satu titik. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, Wandu C Labesi, menyebut banjir bandang, tanah longsor, dan pohon tumbang tercatat di empat kecamatan berbeda dengan puluhan kampung yang terdampak.
Kecamatan Tabukan Selatan menjadi wilayah dengan dampak paling meluas. BPBD mencatat banjir dan longsor terjadi di Kampung Simueng, Kampung Lesabe, Kampung Lesabe 1, dan Kampung Bentung. Di Kecamatan Tamako, bencana menerjang Kampung Dagho, Balane, Binala, Lelipang, Kalinda, dan Pokol.
Sementara itu, Kecamatan Manganitu melaporkan kejadian di Kampung Barangkalang, dan Kecamatan Manganitu Selatan di Kampung Laine. Banjir genangan khusus dilaporkan terjadi di Kampung Simueng dan Kampung Laine.
Wandu menjelaskan, banjir bandang yang terjadi disebabkan oleh luapan air sungai di sejumlah kampung di Kecamatan Tamako, seperti Kampung Balane, Binala, Lelipang, dan Dagho. Sementara itu, tanah longsor menutup ruas jalan Lesabe-Bukide, Bowolagu yang menghubungkan Kampung Lesabe dengan Malamenggu, serta ruas jalan di Kampung Barangkalang dan Kampung Kalinda.
"Rumah warga maupun infrastruktur terdampak pada peristiwa tersebut," kata Wandu di Manado, Minggu. Ia menambahkan bahwa akses jalan di empat kecamatan sempat terputus akibat material longsor.
Dampak bencana tidak hanya dirasakan oleh pemukiman penduduk. BPBD Sangihe mencatat sejumlah fasilitas umum, sekolah, dan tempat ibadah ikut terancam. Cuaca buruk yang melanda sejak Selasa (21/7) hingga Rabu (22/7) pukul 16.00 Wita menjadi pemicu utama rangkaian bencana ini.
"Kami telah melakukan kaji cepat, rapat di lokasi bencana, penanganan dan pendataan, mengumpulkan informasi, koordinasi hingga pengerahan logistik," ujar Wandu. Hingga saat ini, tim BPBD masih berada di lapangan untuk memastikan penanganan darurat berjalan dan kebutuhan dasar warga terpenuhi.