JAKARTA — Mendiktisaintek Brian Yuliarto menegaskan bahwa kampus tidak boleh berjarak dengan persoalan riil di sekitarnya. Menurutnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang memiliki cita-cita besar untuk mensejahterakan rakyatnya melalui ilmu pengetahuan dan teknologi.
"Kampus itu menjadi pusat-pusat kemajuan. Orang masuk ke kampus harus melihat sesuatu yang berbeda dari lingkungan sekitarnya, karena di sinilah pusat kemajuan bangsa," kata Brian Yuliarto dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.
Brian menilai kontribusi kampus harus diperkuat melalui tiga pilar utama: pendidikan, riset, dan inovasi. Ketiganya, kata dia, harus mampu menjawab kebutuhan dunia usaha, industri, dan pemerintah. Ia memperkenalkan konsep "Kampus Berdampak" sebagai tolok ukur keberhasilan institusi pendidikan tinggi.
"Kami ingin mensosialisasikan Kampus Berdampak, apa yang sudah bisa kampus berikan untuk masyarakat, bangsa, dan industri," ujar Mendiktisaintek.
Salah satu contoh konkret yang diangkat Mendiktisaintek adalah pengelolaan sampah. Ia menilai permasalahan ini membutuhkan pendekatan multidisiplin yang hanya bisa dihasilkan oleh perguruan tinggi. Bukan sekadar urusan teknis, sampah juga soal rekayasa sosial dan biologi.
"Pengelolaan sampah ini membutuhkan social engineering, rekayasa biologi, dan engineering. Ini adalah kerja multidisiplin yang diharapkan menjadi percontohan dan memberikan dampak," tutur Brian Yuliarto.
Brian secara spesifik menyebut Universitas Diponegoro (Undip) yang telah memiliki Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Ia mendorong kapasitas TPST Undip ditingkatkan agar bisa membantu masyarakat di sekitar kampus, khususnya di kawasan Tembalang.
"TPST Undip merupakan contoh TPST yang dibutuhkan masyarakat. Saya minta kapasitasnya ditingkatkan agar dapat membantu masyarakat Tembalang. Kalau bisa ada pelatihan untuk masyarakat agar terbiasa memilah sampah, sehingga bisa diolah di sini dan menjadi percontohan bagi kampus-kampus di seluruh Indonesia," ucap Mendiktisaintek.
Pemerintah pusat berharap langkah ini bisa direplikasi oleh perguruan tinggi lain di berbagai daerah, termasuk di Sulawesi Utara. Inovasi dari kampus diharapkan tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar menjadi solusi bagi kebutuhan warga di lapangan.