JAKARTA — Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pihaknya bersandar pada keunggulan teknologi kedirgantaraan nasional untuk menjawab kebutuhan logistik medis masa depan. Pesawat N219 yang dikembangkan bersama PT Dirgantara Indonesia (DI) memiliki kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL), sehingga memungkinkan pesawat mendarat di darat maupun perairan untuk evakuasi medis di wilayah kepulauan.
Visi ambulans terbang ini merupakan salah satu terobosan pemerintah untuk mengatasi kesulitan akses layanan kesehatan di sejumlah daerah. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyebut masih banyak masyarakat yang harus menempuh perjalanan hingga tujuh sampai sembilan jam untuk memperoleh layanan kesehatan, termasuk ibu yang membutuhkan pertolongan saat persalinan.
Presiden Prabowo menekankan pentingnya ambulans udara berupa helikopter dan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan rumput, lapangan pasir, hingga pinggir sungai. Hal ini disampaikannya dalam Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan pada Jumat (14/8).
"Untuk itu kita juga akan membuat ambulans udara dengan helikopter dan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan rumput, lapangan pasir, dan bisa mendarat di pinggir sungai, supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa dievakuasi kalau dia sakit," ujar Presiden Prabowo.
Selain pesawat berawak, BRIN juga mengembangkan Pesawat Udara Nirawak (PUNA) MALE sebagai tulang punggung sistem nirawak. Platform ini mampu mengudara selama 24 jam nonstop dengan jarak kendali Beyond Line of Sight (BLOS) mencapai kurang lebih 2.000 kilometer.
"Platform nirawak berdaya jelajah tinggi ini memberikan sistem yang mandiri dan andal untuk berbagai misi kritis, dari pemantauan taktis hingga proyeksi logistik darurat pada masa depan," kata Arif Satria kepada ANTARA di Jakarta, Minggu.
Dengan kemampuan jelajah yang luas, PUNA MALE dinilai strategis untuk mendukung operasi kemanusiaan dan penanggulangan bencana di Indonesia, termasuk kawasan Sulawesi Utara yang memiliki banyak gugusan pulau dan rawan bencana alam.
Pesawat N219 merupakan hasil karya anak bangsa yang dirancang khusus untuk kondisi geografis Indonesia. Kemampuan STOL-nya menjadi keunggulan utama karena tidak membutuhkan landasan pacu yang panjang, sehingga cocok untuk melayani daerah terpencil, perbatasan, dan kepulauan.
Varian amfibi N219A menambah fleksibilitas operasional karena dapat mendarat di perairan, menjadikannya pilihan tepat untuk evakuasi medis di wilayah pesisir dan kepulauan yang minim infrastruktur bandara.
Pengembangan ekosistem N219 ini sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat kemandirian industri pertahanan dan kedirgantaraan nasional, sekaligus menjawab kebutuhan darurat kesehatan masyarakat di daerah terluar Indonesia.