SULAWESI UTARA — Penguatan IHSG terjadi di tengah volume transaksi yang cukup solid. Sebanyak 59,12 miliar saham diperdagangkan dengan nilai mencapai Rp 17,47 triliun dan frekuensi 2,25 juta kali transaksi. Pada perdagangan hari ini, indeks sempat menyentuh level tertinggi di 6.551,95 dan terendah 6.507,4.
Katalis utama penguatan pasar hari ini adalah langkah Kementerian Keuangan Amerika Serikat yang berencana melakukan buyback US Treasuries bertenor panjang. Langkah ini dipandang pasar sebagai upaya menjaga stabilitas pasar obligasi global, yang berdampak positif pada minat investor terhadap aset berisiko seperti saham.
Dari dalam negeri, sektor-sektor siklikal memimpin kenaikan. Saham barang baku tercatat naik paling tinggi sebesar 0,62%, disusul sektor infrastruktur yang menguat 0,46%, dan sektor keuangan yang naik 0,32%. Saham konsumen primer juga ikut menghijau dengan penguatan tipis 0,22%.
Di papan perdagangan, sejumlah saham berkapitalisasi kecil mencatatkan kenaikan signifikan dan menghiasi daftar top gainers:
Lonjakan harga saham-saham tersebut umumnya didorong oleh aksi spekulasi pelaku pasar ritel, menyusul tingginya minat terhadap saham-saham berharga rendah di tengah momentum penguatan indeks.
Penguatan IHSG sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa Asia yang kompak menguat pada hari yang sama. Investor regional tampak kembali berani mengambil posisi setelah data ekonomi AS terbaru meredakan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi yang lebih dalam.
Kendati demikian, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga global. Keputusan pemerintah AS untuk membeli kembali obligasi jangka panjang dinilai sebagai sinyal untuk menjaga likuiditas, namun tekanan terhadap nilai tukar mata uang negara berkembang masih tetap menjadi perhatian utama investor asing.
Investasi mengandung risiko.