SULAWESI UTARA — Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung rapat koordinasi penanganan karhutla di Kalimantan Barat, Sabtu (22/8). Rapat yang digelar di Pangkalan TNI AU Supadio itu menghasilkan lima langkah taktis yang mencakup operasi darat, udara, hingga rekayasa cuaca.
Dalam rapat tersebut, Presiden menerima laporan terkini mengenai situasi karhutla dan menekankan pentingnya penanganan yang cepat serta terkoordinasi di lapangan. Ia juga meminta pemerintah daerah tegas dalam menerapkan aturan di wilayahnya.
"Presiden juga menekankan agar Pemerintah Daerah tegas dalam menerapkan aturan di wilayahnya, sekaligus memperkuat langkah-langkah pencegahan agar kebakaran hutan dan lahan tidak terus berulang," tulis akun Sekretariat Kabinet di Instagram.
Pemerintah mendatangkan tiga batalyon TNI atau sekitar 1.500 personel dari luar Pulau Kalimantan untuk mempertebal pasukan pemadam. Pengiriman personel dikebut mulai Sabtu hingga Minggu pagi agar segera bergabung dengan tim di lapangan.
Operasi darat dioptimalkan dengan pemadaman manual di titik-titik api yang sulit dijangkau. Sinergi antardisiplin menjadi garda terdepan dalam memitigasi perluasan area kebakaran.
Dari udara, pemerintah menambah enam unit helikopter besar bermuatan water bombing. Armada ini dijadwalkan tiba pada Sabtu sore untuk langsung menggempur titik api berukuran besar.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) diperbanyak dengan memanfaatkan potensi awan hujan yang terdeteksi di wilayah Kalimantan Barat. Hujan buatan diharapkan mempercepat pemadaman area lahan yang luas secara alami.
Khusus di lahan gambut yang rawan menyimpan bara di bawah permukaan, pemerintah memperbanyak alat pompanisasi dan bor air. Langkah ini krusial untuk membasahi area bawah tanah dan meredam titik panas agar tidak memicu kebakaran baru.
Usai memimpin rapat koordinasi, Presiden langsung bertolak menuju Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Kunjungan ke lapangan dilakukan untuk meninjau secara langsung kondisi lahan gambut yang masih dalam proses pemadaman.