Ketua Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Lokon, Armando Manguleh, memantau kemunculan api di dasar Kawah Tompaluan, Gunung Lokon, Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Fenomena ini teramati pada malam hari dan menandakan suplai magma yang telah menetap di permukaan setelah peningkatan aktivitas vulkanik pada September 2025. Imbauan untuk mematuhi radius bahaya 1,5 kilometer dari kawah kembali ditegaskan menyusul potensi gas beracun dan erupsi freatik.
TOMOHON — Aktivitas Gunung Lokon kembali menunjukkan tanda-tanda yang perlu diwaspadai. Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) mengonfirmasi adanya api yang tidak padam di dasar Kawah Tompaluan, sebuah indikasi kuat bahwa magma telah berada dekat dengan permukaan.
"Pada malam hari teramati adanya api di dasar kawah Tompaluan," kata Ketua Pos PGA Lokon, Armando Manguleh, di Tomohon, Senin.
Armando menjelaskan, kemunculan api tersebut merupakan kelanjutan dari peningkatan aktivitas vulkanik yang terekam sejak September 2025. Kondisi ini berbeda dari sekadar asap kawah biasa, karena menunjukkan adanya material pijar yang terus menerus muncul.
Pihak PGA menekankan agar seluruh pihak, terutama warga dan wisatawan, tidak mendekati atau melakukan aktivitas apa pun di dalam radius 1,5 kilometer dari Kawah Tompaluan. Imbauan ini bukan tanpa alasan.
Potensi bahaya saat ini bukan hanya letusan besar, melainkan juga pelepasan gas beracun yang dapat keluar sewaktu-waktu dari kawah. Selain itu, erupsi freatik yang terjadi secara tiba-tiba juga menjadi momok utama yang dikhawatirkan para pengamat.
"Itu yang kami khawatirkan (erupsi freatik). Kami harap radius bahaya tetap dipatuhi," harap Armando. Erupsi freatik adalah letusan yang dipicu oleh uap air dan gas, sering kali terjadi tanpa didahului gempa besar sehingga sulit diprediksi secara akurat.
Berdasarkan pengamatan periode 23 Agustus 2026, secara visual teramati asap kawah bertekanan lemah hingga sedang dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Kolom asap terpantau setinggi 25 hingga 100 meter di atas puncak kawah.
Dari sisi kegempaan, terekam 21 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 3-9 milimeter dan durasi 3-5 detik. Selain itu, tercatat satu kali gempa tektonik lokal dengan amplitudo 35 milimeter serta enam kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 3-40 milimeter.
Hingga saat ini, Badan Geologi Kementerian ESDM masih menetapkan status Waspada (Level II) untuk Gunung Lokon. Status ini berarti masih ada potensi peningkatan aktivitas yang dapat mengganggu warga di sekitar gunung.