China-Nepal Siaga Banjir Susulan: Danau Bendungan Alami Terbentuk Usai Gletser Runtuh

Penulis: Fajar  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 15:32:01 WIB
Tim peneliti melakukan survei udara terhadap danau bendungan alami di perbatasan China-Nepal yang volumenya terus meningkat.

SULAWESI UTARA — Ancaman di kawasan Himalaya belum usai. Setelah banjir bandang yang dipicu runtuhnya gletser, kini para ilmuwan dan tim penyelamat di perbatasan China-Nepal menghadapi bahaya baru: danau bendungan alami yang volumenya terus bertambah. Material batu dan es yang terbawa longsoran membendung aliran sungai, menciptakan bendungan darurat yang tidak dirancang untuk menahan tekanan air.

Volume Air Mengancam, Operasi Penyelamatan Dihentikan

Survei udara yang dilakukan tim teknik China mengungkap kondisi mengkhawatirkan. Danau tersebut kini menampung lebih dari 2,5 juta meter kubik air—setara sekitar 1.000 kolam renang ukuran Olimpiade. Angka ini meningkat signifikan dari perkiraan 1,5-2 juta meter kubik pada hari sebelumnya.

China memperkirakan sekitar 3 juta meter kubik air tambahan akan masuk ke danau dalam tiga hari ke depan. Puncak aliran diprediksi terjadi sekitar 1 September, diperparah dengan hujan yang diperkirakan turun selama sepekan ke depan.

"Volume air terus meningkat, begitu pula risikonya," ujar Zhu Jinfeng, peneliti dari Kementerian Sumber Daya Air China. Karena ancaman ini, tim dan kendaraan penyelamat ditarik ke area yang lebih aman untuk menghindari kemungkinan banjir mendadak, longsor, maupun runtuhan gunung.

Mengapa Bendungan Alami Lebih Berbahaya dari Bendungan Buatan

Berbeda dengan bendungan buatan yang memiliki pintu air dan sistem pengaturan aliran, bendungan alami tidak memiliki mekanisme pelepasan air terkontrol. Jika tekanan air terus meningkat, material penyusunnya dapat terkikis atau runtuh, menyebabkan air mengalir deras ke wilayah hilir.

Pakar longsor Himalaya dari University of Canterbury, Tom Robinson, menjelaskan situasi ini menyerupai bendungan hidroelektrik tanpa sistem pengaturan. "Dalam skenario terburuk, bendungan akan terkikis membentuk saluran. Hal itu dapat menyebabkan seluruh material runtuh dan danau terkuras dengan sangat cepat," katanya.

Fenomena ini dikenal sebagai glacial lake outburst flood (GLOF) jika berkaitan dengan danau gletser. Sementara danau yang terbentuk dari material longsoran juga dapat menghasilkan banjir mendadak ketika bendungan alaminya gagal, membawa lumpur, batu, dan material lain ke wilayah hilir.

Opsi Penyelamatan: Membuat Saluran Drainase di Medan Ekstrem

Salah satu opsi untuk mengurangi tekanan pada danau adalah membuat saluran drainase pada bagian bendungan alami yang lebih rendah. Namun, pekerjaan ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Chen Hanxiao, anggota tim teknik China, menjelaskan lebar dan kedalaman saluran harus dihitung berdasarkan kecepatan aliran air dan kecepatan danau terisi.

"Setelah runtuhnya gletser membentuk danau, banyak tebing terisolasi dan tebing curam muncul di sepanjang garis pantainya," ujarnya. Kondisi medan yang curam membuat akses menuju danau sangat sulit. Pengerjaan saluran di bendungan alami yang tidak stabil justru berpotensi mengganggu struktur tersebut jika tidak dilakukan dengan perhitungan matang.

Pemantauan Berlapis: Satu Longsoran Bisa Ciptakan Danau Baru

Yang membuat situasi semakin rumit, Nepal dan China mendeteksi lebih dari satu danau yang terbentuk setelah banjir dan longsoran di kawasan Himalaya. Nepal sebelumnya memperingatkan adanya danau yang terbentuk karena material longsoran membendung sungai di dekat lokasi bencana.

China juga melakukan pemantauan menggunakan penginderaan jauh untuk mencari kemungkinan terbentuknya danau bendungan alami lain di sekitar kawasan tersebut. Risiko bencana kini tidak berhenti pada banjir yang sudah terjadi—satu longsoran besar dapat mengubah aliran sungai, membentuk danau baru, lalu menciptakan potensi banjir susulan.

Di wilayah Himalaya yang medannya ekstrem dan sulit dijangkau, survei udara, citra satelit, pemodelan 3D, serta pemantauan cuaca menjadi alat penting untuk memperkirakan perubahan risiko. Para ilmuwan menekankan pentingnya pemantauan gletser, lereng gunung, sungai, dan danau bendungan alami secara bersamaan.

Reporter: Fajar
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top