8 Daerah di Sulut Siaga Kekeringan, Bupati Minut Minta Warga Hemat Air untuk Hadapi Kemarau Panjang

Penulis: Yasir  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 09:28:02 WIB
Delapan kabupaten/kota di Sulawesi Utara berstatus siaga kekeringan akibat Hari Tanpa Hujan (HTH) yang berkepanjangan.

Sebanyak delapan kabupaten/kota di Sulawesi Utara berstatus siaga kekeringan akibat Hari Tanpa Hujan (HTH) yang berkepanjangan. Bupati Minahasa Utara Joune Ganda menginstruksikan warganya untuk mulai berhemat air sejak sekarang agar tidak terjadi krisis air bersih.

MANADO — Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara mencatat delapan daerah di wilayahnya mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) panjang yang memicu status siaga kekeringan. Kondisi ini mendorong Bupati Minahasa Utara Joune Ganda mengeluarkan imbauan resmi kepada masyarakat untuk menghemat penggunaan air.

"Gunakan air secara bijak mengingat ketersediaan air berkurang drastis selama musim kemarau," kata Joune di Manado, Minggu (11/8).

Warga Diminta Hemat Mulai dari Rumah Tangga

Joune meminta setiap keluarga di Minut untuk tidak lagi membuang-buang air dalam kegiatan sehari-hari. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi penurunan debit air yang sudah mulai terasa di sejumlah wilayah.

Menurutnya, pola konsumsi rumah tangga menjadi kunci utama dalam menghadapi masa kritis ini. Jika penghematan dilakukan sejak dini, risiko krisis air bersih bisa ditekan sebelum memasuki puncak kemarau.

Kekeringan Picu Ancaman Karhutla di 8 Daerah

Gubernur Sulut Yulius Selvanus menegaskan bahwa dampak kekeringan ekstrem tidak hanya soal air bersih. Lahan yang mengering dan suhu udara tinggi kini menjadi kombinasi berbahaya yang memicu titik-titik api baru.

Beberapa pekan terakhir, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah menghanguskan puluhan hektare area vegetasi di sejumlah kabupaten. Kondisi ini diperparah oleh angin kencang yang mempercepat penyebaran api.

Dampak Berantai yang Mengancam Kesehatan dan Ekonomi

Gubernur mengingatkan bahwa kekeringan panjang memicu rangkaian persoalan berantai bagi lingkungan, kesehatan, hingga perekonomian daerah. Sektor pertanian menjadi yang paling rentan karena ketergantungannya pada ketersediaan air irigasi.

Selain itu, kualitas udara yang memburuk akibat kabut asap kebakaran berpotensi memunculkan gangguan pernapasan bagi warga. Pemerintah daerah terus memantau perkembangan titik api dan debit air di seluruh wilayah rawan.

Reporter: Yasir
Sumber: manado.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top