Neraca Dagang Sulut Januari-Juli 2026 Masih Surplus 603,37 Juta Dolar AS, Tapi Ekspor Juli Tertekan 29,17 Persen

Penulis: Ragil  •  Rabu, 02 September 2026 | 14:39:32 WIB
Neraca dagang Sulawesi Utara Januari–Juli 2026 mencatat surplus 603,37 juta dolar AS, didorong ekspor kumulatif yang naik 3,32 persen.

Kinerja ekspor Sulawesi Utara sepanjang Januari-Juli 2026 masih mencatatkan surplus neraca perdagangan 603,37 juta dolar AS, didorong kenaikan ekspor kumulatif sebesar 3,32 persen menjadi 738,01 juta dolar AS. Namun pada Juli saja, laju ekspor anjlok 29,17 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, sementara impor naik tajam 62,69 persen secara tahunan. Data ini dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut di Manado pada Rabu.

MANADO — Nilai ekspor Sulawesi Utara pada Juli 2026 hanya mencapai 96,51 juta dolar AS, turun 29,17 persen dibanding Juli 2025 lalu. Kepala BPS Sulut, Dr Watekhi, menyebut penurunan ini seiring terkontraksinya permintaan komoditas unggulan di pasar global.

Meski demikian, neraca perdagangan provinsi itu pada bulan Juli masih mencatat surplus 63,18 juta dolar AS, karena total impor periode yang sama hanya menembus 33,33 juta dolar AS.

Minyak Nabati Masih Tumpuan Ekspor Daerah

Jika ditilik secara kumulatif Januari hingga Juli 2026, ekspor Sulut tercatat 738,01 juta dolar AS, naik tipis dibanding periode sama 2025 yang sebesar 714,30 juta dolar AS. Impornya pada rentang yang sama justru melesat 39,98 persen, dari 96,19 juta dolar AS menjadi 134,64 juta dolar AS.

Lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) masih menjadi komoditas penyumbang terbesar, dengan nilai ekspor 533,35 juta dolar AS atau naik 3,77 persen. Sektor ini punya andil sekitar 72 persen terhadap total ekspor Sulut sepanjang Januari–Juli 2026, sekaligus penopang utama neraca dagang.

Impor Bahan Bakar Mineral Meningkat untuk Sektor Industri

Komoditas impor terbesar tetap didominasi bahan bakar mineral (HS 27) yang mencapai 84,92 juta dolar AS, meningkat 14,76 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan impor ini kemungkinan besar dipicu kebutuhan energi untuk industri pengolahan dalam negeri yang sedang menggeliat.

Kenaikan impor yang hampir menyentuh 40 persen memang jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekspor. Namun secara nilai absolut, ekspor yang hampir enam kali lipat lebih besar dari impor membuat defisit bisa terhindarkan.

Amerika Serikat Kini Jadi Pasar Ekspor Terbesar

Di tengah tren pelemahan ekspor bulanan, permintaan pasar Amerika Serikat (AS) justru melonjak signifikan. Nilai pengiriman komoditas Sulut ke AS per Januari–Juli 2026 mencapai 154,71 juta dolar AS, melonjak 332,22 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya 35,79 juta dolar AS. Pemicu utamanya adalah kebutuhan minyak nabati yang tinggi untuk industri makanan dan energi terbarukan di sana.

Di sisi lain, Malaysia muncul sebagai negara asal impor terbesar bagi Sulut dengan nilai 60,05 juta dolar AS pada Januari–Juli 2026. Posisi ini menjadikan Malaysia sebagai mitra dagang utama di sektor hulu, mengingat mayoritas kebutuhan bahan baku dan energi berasal dari negara tersebut.

Menanggapi dinamika perdagangan yang bergejolak ini, Watekhi menegaskan bahwa kecepatan pertumbuhan impor mesti dicermati pelaku usaha. “Meskipun di periode semester pertama ini impor mengalami peningkatan dibandingkan ekspor, namun tercatat Sulut masih mengalami surplus,” kata Watekhi.

Proyeksi Ekspor Sulut ke Depan

Diperkirakan permintaan global terhadap produk minyak nabati dari kelapa dan kelapa sawit asal Sulawesi Utara akan terus bertumbuh, terlebih dengan insentif dagang dari sejumlah negara tujuan. Adapun pemerintah provinsi didorong memperluas akses pasar nontradisional agar porsi ekspor tidak lagi bergantung pada satu komoditas atau satu negara saja.

Data BPS ini menjadi sinyal bagi pengusaha dan otoritas pelabuhan di Sulut untuk menjaga ritme produksi, pasokan logistik, dan stabilitas harga komoditas agar surplus neraca bisa terpelihara hingga akhir tahun 2026.

Reporter: Ragil
Sumber: manado.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top