Ibu Empat Anak di Manado Terima Bantuan Beras Bulog, Harapan Hidup di Dapur Beralas Tanah Kembali Menyala

Penulis: Saiful  •  Sabtu, 05 September 2026 | 14:01:02 WIB
Hayati Sahempa (45), penerima bantuan pangan beras dari Perum Bulog, berdiri di depan dapur rumahnya yang beralas tanah di Kelurahan Bailang, Kota Manado, Sulawesi Utara.

Seorang ibu rumah tangga di Kelurahan Bailang, Kota Manado, Hayati Sahempa (45), bernapas lega setelah namanya tercatat sebagai penerima bantuan pangan beras dari pemerintah untuk alokasi tiga bulan. Bantuan yang disalurkan melalui Perum Bulog ini menjadi penyelamat di tengah penghasilan suaminya sebagai buruh harian lepas yang tidak menentu.

MANADO — Sebuah pesan singkat dari Kepala Lingkungan V Bailang, Ibrahim, mengubah suasana di rumah sederhana Hayati Sahempa. Kabar bahwa keluarganya masuk daftar penerima bantuan beras untuk alokasi Juli, Agustus, dan September 2026 diterimanya dengan perasaan haru dan syukur yang mendalam.

Bagi Hayati, bantuan tersebut bukan sekadar karung beras. Di tengah ketidakpastian pendapatan sang suami yang hanya bisa membawa pulang sekitar Rp60 ribu per hari saat ada panggilan kerja, kepastian ketersediaan makanan untuk empat anaknya menjadi hal yang paling berharga.

Perjuangan Hayati di Dapur Sederhana

Kehidupan keluarga Hayati jauh dari kata berkecukupan. Rumahnya berdinding tripleks dengan dapur yang terbuat dari anyaman bambu dan seng. Lantainya masih berupa tanah yang tidak rata, namun di sanalah ia berjuang menghadirkan makanan hangat untuk buah hatinya setiap hari.

Dengan peralatan seadanya, Hayati tetap menanak nasi dan mengolah apa pun yang tersedia. Setiap kepulan asap dari tungku dapurnya menjadi saksi bisu kegigihan seorang ibu yang menolak menyerah pada keadaan. Ada hari-hari ketika menu makan keluarga harus disesuaikan dengan sisa uang di tangan.

Harapan Baru dari Pendidikan Anak

Di tengah segala keterbatasan, secercah harapan datang dari dunia pendidikan. Salah satu anak Hayati dinyatakan diterima di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 21 Manado. Kesempatan ini ia rasakan sebagai anugerah besar yang sedikit banyak mengurangi beban keluarga.

"Terima kasih pak Presiden, terima kasih pemerintah Sulut, yang selalu membantu kami," ucap Hayati dengan suara pelan, menggambarkan rasa syukur yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Baginya, pendidikan adalah satu-satunya jalan bagi anak-anaknya untuk keluar dari jerat kemiskinan. Harapan agar sang anak bisa meraih masa depan yang lebih baik kini kembali menyala, meskipun kondisi ekonomi keluarga serba pas-pasan.

Beras Bantuan untuk Keberlangsungan Hidup

Penyaluran bantuan beras oleh Perum Bulog Divre Sulutgo hingga ke kantor kelurahan menjadi mata rantai penting bagi warga prasejahtera. Di tangan keluarga seperti Hayati, bantuan pemerintah itu berubah fungsi menjadi nasi hangat yang tersaji di piring anak-anaknya.

Setidaknya untuk tiga bulan ke depan, kekhawatiran tentang stok beras di dapur kecilnya sedikit berkurang. Hayati kini punya alasan kuat untuk kembali menyalakan tungku dan menanak nasi tanpa dibayangi kecemasan akan habisnya persediaan.

Bantuan yang mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang ini, memiliki dampak yang luar biasa besar bagi mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Kepulan asap dari dapur beralas tanah itu seakan menjadi simbol bahwa harapan selalu ada, selama ada kepedulian dari negara untuk warganya.

Reporter: Saiful
Sumber: manado.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top