Erupsi Anak Krakatau: Ahli Jelaskan Kenapa Hujan Abu di Lampung Sulit Diprediksi

Penulis: Yasir  •  Senin, 07 September 2026 | 12:33:01 WIB
Warga melintas di kawasan yang diselimuti abu vulkanik erupsi Anak Krakatau di Bandar Lampung, Lampung, Senin (7/9/2020).

SULAWESI UTARA — Wilayah terdampak abu vulkanik kali ini terbilang luas. Berdasarkan data yang dihimpun, kabupaten dan kota yang diselimuti abu tipis hingga tebal meliputi Lampung Selatan, Bandar Lampung, Lampung Timur, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Mesuji, hingga Lampung Barat. Keluhan yang dominan dilaporkan warga adalah mata perih, rasa tidak nyaman di tenggorokan, hingga gangguan pernapasan akibat partikel debu halus yang beterbangan di udara.

Faktor Kunci yang Menentukan Berhentinya Letusan

Daryono menjelaskan, mekanisme berhentinya erupsi tidak bisa disamakan dengan proses alam yang terjadwal. Kunci utamanya ada pada pasokan magma segar dari kedalaman bumi. "Selama kantong magma di bawah gunung masih terus mendapat kiriman magma baru dari kedalaman bumi, letusan susulan yang membawa abu akan terus terjadi secara naik-turun, kadang tenang, kadang membesar," ujarnya dalam pernyataan tertulis, Senin (7/9).

Proses tersebut baru akan berhenti total ketika tekanan alami dari dalam bumi kehilangan tenaganya. Tanpa dorongan kuat, cairan magma di saluran gunung akan mendingin, mengeras, dan akhirnya tersumbat oleh batuan di sekitarnya. Pada titik inilah gunung api kembali ke kondisi stabil dan tidak mampu lagi menyemburkan material ke permukaan.

Mengapa Arah Sebaran Abu Sulit Diprediksi

Distribusi abu ke wilayah pemukiman tidak hanya ditentukan oleh kekuatan letusan, tetapi juga arah tiupan angin. Saat letusan kuat terjadi, partikel abu halus terlempar sangat tinggi hingga mencapai lapisan udara atas. Tiupan angin kencang kemudian membawa partikel tersebut melayang jauh hingga puluhan bahkan ratusan kilometer sebelum akhirnya jatuh ke tanah. Perubahan arah angin inilah yang diduga menjadi penyebab utama abu vulkanik kali ini terbawa hingga jangkauan yang lebih jauh dari pusat erupsi.

Tanda-tanda Pasokan Magma Mulai Menipis

Meski tidak bisa memprediksi tanggal pasti, para ahli memiliki cara membaca indikasi awal menurunnya aktivitas gunung. Daryono menyebutkan beberapa sinyal yang bisa dipantau melalui peralatan khusus. "Tanda-tanda pasokan magma mulai habis dapat terlihat dari alat pemantau, seperti hilangnya gempa dalam dari bawah gunung, menurunnya drastis bau gas menyengat, serta tubuh gunung yang mulai menyusut," jelasnya.

Metode ini dilakukan dengan memantau penurunan frekuensi gempa serta deformasi atau perubahan bentuk tubuh gunung secara terus-menerus. Pola deflasi dan deformasi permukaan menjadi acuan utama para vulkanolog dalam membaca kondisi dapur magma.

Keterbatasan Teknologi dalam Memantau Aktivitas Magma

Daryono mengakui bahwa hingga saat ini belum ada teknologi di dunia yang mampu mengukur sisa jumlah magma di dalam bumi secara presisi. Sistem perut bumi merupakan ekosistem alam yang rumit dan berada puluhan kilometer di bawah permukaan tanah. "Ini mirip kejadian gempa yang belum dapat diprediksi hingga saat ini karena mekanisme terjadinya di kedalaman jauh di bawah permukaan bumi," imbuhnya.

Menanggapi situasi ini, ia mengapresiasi kerja Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi yang terus melakukan pemantauan intensif. "Yang bisa dilakukan oleh para ahli vulkanologi bukanlah menebak tanggal, melainkan membaca pola. Appreciate untuk PVMBG Badan Geologi yang tiada lelah terus bekerja untuk ini," tutup Daryono.

Reporter: Yasir
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top