SULAWESI UTARA — Bahlil menyampaikan hal itu dalam acara Innovation Technology for Social and Environmental Awards (InTechSEA) di Jakarta, Senin. Menurutnya, cadangan nasional 20 hari seharusnya cukup untuk mencegah antrean terjadi.
"Jadi, untuk cadangan nasional kita nggak ada masalah," ujar Bahlil.
Bahlil mengaku sudah mengecek langsung persoalan antrean yang muncul di sejumlah daerah. Temuannya, sebagian konsumen berpindah dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi setelah harga BBM nonsubsidi naik.
Perpindahan itu sendiri tidak dipersoalkan. Namun ia berharap masyarakat yang tergolong mampu tidak ikut mengonsumsi Pertalite dan Biosolar.
"Yang tadinya tidak memakai subsidi, mereka beralih ke minyak (BBM) subsidi. Ya nggak apa-apa, tetapi saya mohon, saya menghimbau kepada saudara-saudara kita yang mampu, yang mobilnya bagus, pakai perasaan lah," kata Bahlil.
Dalam tiga hari terakhir, antrean kendaraan pembeli BBM membludak hingga lebih dari 50 persen dan sempat mengganggu kelancaran lalu lintas. Pantauan Senin pagi di SPBU Jalan AP Pettarani, Kota Makassar, menunjukkan kondisi sudah jauh berbeda — hanya belasan kendaraan mengantre dan petugas melayani konsumen tanpa hambatan berarti.
Pemerintah setempat menerbitkan aturan pembelian BBM disesuaikan dengan ganjil-genap nomor polisi. Kendaraan besar seperti truk dan bus diwajibkan mengisi BBM pada malam hari agar tidak menambah kepadatan arus.
Dari sisi pasokan, Pertamina menambah volume BBM ke SPBU dan memperpanjang waktu operasional. Kombinasi dua langkah itu disebut membuat antrean kembali normal.
Standar cadangan BBM nasional sendiri berada di rentang minimal 21–28 hari. Angka 20 hari yang disebut Bahlil berada sedikit di bawah ambang itu, meski pemerintah menegaskan tidak ada gangguan pasokan di tingkat nasional.