Camden International Film Festival 2026 Gelar Premiere The Illusion of an Everlasting Summer

Penulis: Ragil  •  Sabtu, 19 September 2026 | 22:00:31 WIB

SULAWESI UTARA — Festival film dokumenter Camden International Film Festival (CIFF) 2026 di Maine, Amerika Serikat, telah mencapai titik tengah penyelenggaraan. Edisi ke-22 festival ini menayangkan The Illusion of an Everlasting Summer karya fotografer Argentina Alessandra Sanguinetti, yang menandai debut penyutradaraannya. Film ini mengikuti perjalanan dua sepupu, Guillermina "Guile" Aranciaga dan Belinda "Beli" Stutz, selama lebih dari seperempat abad di kawasan pertanian Pampas, Argentina.

Festival film dokumenter bergengsi Camden International Film Festival (CIFF) 2026 di wilayah pesisir Maine, Amerika Serikat, memasuki hari-hari pertengahan penyelenggaraan. Edisi ke-22 festival ini kembali menarik sejumlah pembuat film dokumenter paling berpengaruh, termasuk pemenang Oscar Alex Gibney dengan film terbarunya, Musk.

Sejumlah nama besar lain turut hadir, seperti pemenang Oscar Laura Poitras dengan film pendek They're Here yang disutradarai bersama Rachel Lauren Mueller, peraih dua Academy Award Barbara Kopple dengan Union Town, serta sutradara Luke Lorentzen dengan Boatbuilders. Film Lorentzen mengangkat proses pembuatan kapal layar kayu sepanjang 56 kaki di Brooklin Boat Yard, Maine.

Film yang Diputar di Camden

Pada Kamis malam, CIFF menayangkan The Illusion of an Everlasting Summer (La ilusión de un verano sin fin) karya Alessandra Sanguinetti. Film ini sebelumnya tayang perdana pada Agustus di Locarno Film Festival, Swiss.

Karya Gibney, Poitras, Kopple, dan Lorentzen tiba di Camden setelah menjalani premiere dunia di Venice Film Festival beberapa hari sebelumnya. Sementara itu, pada Sabtu, festival melanjutkan penayangan dengan premiere dunia Argonauts at the End of History karya Sierra Pettengill dan No Money No Honey karya Nicole Costa.

Hari Jumat sebelumnya mencatat premiere dunia dua film nonfiksi lain, yakni Dependence yang disutradarai Grace Harper Brighouse dan Windows of Time garapan Hubert Taylor bersama Cyrus Moussavi.

Kisah Dua Sepupu di Pampas Argentina

The Illusion of an Everlasting Summer membawa penonton masuk ke dunia dua gadis sepupu, Guillermina "Guile" Aranciaga dan Belinda "Beli" Stutz, yang tumbuh besar di kawasan pertanian Pampas, Argentina. Sejak 1999, Sanguinetti mengikuti kehidupan keduanya saat merawat hewan ternak, bermain di perairan sekitar, dan larut dalam imajinasi.

Dalam sesi tanya jawab usai penayangan yang dimoderatori Senior Programmer CIFF Zaina Bseiso, Sanguinetti mengungkapkan niat awalnya adalah membuat seri foto tentang hewan ternak. "Seeing life through their eyes. And that's where I met the girls' grandmother that appeared in the film, and through the grandmother is how I met them," ujarnya.

Fokus Sanguinetti kemudian bergeser ke pembuatan gambar diam Guile dan Beli. "When I was photographing them, I felt like it wasn't enough. I couldn't hear them… I thought, 'Photography's just too flat. I have to film this,'" jelasnya.

Sang sutradara lantas meletakkan kamera video di tripod sambil tetap memotret. Ia menyadari kedua gadis itu mulai berakting di depan kamera video, sehingga ia mengajak mereka bermain peran. "I would put the video camera on the tripod and photograph them at the same time. And then I realized they were acting for the video camera. So, then I started playing with them saying, 'Oh, why don't we pretend this? Why don't we pretend that?' And it was just play between the three of us," tuturnya.

Perjalanan 25 Tahun dalam Bingkai Film

Sanguinetti mengaku pendekatan video membuatnya merasa lebih dekat dengan subjek. "I could tell they started feeling sort of like the stars of their own life with the video. When I was photographing them, I felt more like a little dictator. I was more precious with the light and the framing and all of that. And with the video it just felt free," katanya.

Film ini mengikuti Guile dan Beli selama lebih dari seperempat abad, dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Seperti banyak proyek dokumenter lain, struktur naratif baru terbentuk di ruang editing.

"I wasn't sure what it was until I started editing. I had a certainty that it was them, it was the animals as witnesses, time, time, time, the grandmother. But then with the editing, you just start seeing the threads, the patterns in the lives that you can't see in the moment," papar Sanguinetti.

Ia mencontohkan karakter Guillermina yang sejak usia sembilan tahun sudah berbicara soal keinginan hidup sendiri. Pola semacam itu baru terlihat jelas saat proses editing.

Jadwal Penayangan Selanjutnya

Penonton di Locarno dan Camden sudah menyaksikan versi final dokumenter ini, tetapi kedua protagonisnya belum. "Guillermina has seen versions of the film. She hasn't seen it finished. And Belinda, I kept offering to show her as I was making different versions of it and she was like, 'No, I don't want to see it. I want to see it when it's out,'" ujar Sanguinetti.

Menurutnya, Belinda sudah mengetahui banyak materi yang dimiliki sang sutradara, termasuk adegan menyusui anaknya. Hal yang mungkin mengejutkan adalah alur cerita yang dibangun Sanguinetti. "It's faithful, but it's missing 80-percent of their lives. This is just the story of them through my eyes, this little bit of their life," jelasnya.

Setelah Camden, The Illusion of an Everlasting Summer dijadwalkan tayang di San Sebastián Film Festival, Spanyol, lalu berlanjut pada Oktober ke Film Fest Gent di Belgia, Chicago International Film Festival, dan Mill Valley di California Utara.

Kehadiran sejumlah nama besar di CIFF 2026 menegaskan posisi festival ini sebagai salah satu ajang rujukan bagi industri dokumenter internasional menjelang musim penghargaan akhir tahun.

Reporter: Ragil
Sumber: deadline.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top