Kemenag Sulut Minta Imam dan Pemimpin Agama Bangun Kesadaran Warga Jaga Lingkungan di Manado

Penulis: Sutomo  •  Selasa, 29 September 2026 | 11:53:33 WIB
Kepala Kanwil Kemenag Sulut Ulyas Taha saat menyampaikan arahan kepada pemimpin agama di Manado.

Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Utara meminta para pemimpin agama di daerah itu membangun kesadaran warga menjaga lingkungan melalui pendekatan keagamaan. Kepala Kanwil Kemenag Sulut Ulyas Taha menyampaikan hal tersebut di Manado, menindaklanjuti arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar soal peran imam dalam pelestarian alam. Menurutnya, kerusakan lingkungan sudah masuk ambang membahayakan sehingga pesan moral agama perlu jadi jalan menyadarkan masyarakat.

MANADO — Kepala Kanwil Kemenag Sulut Ulyas Taha menilai pendekatan keagamaan bisa menjadi jalan efektif untuk menyentuh kesadaran warga soal pelestarian lingkungan. Arahan itu merujuk pada pesan Menteri Agama Nasaruddin Umar yang menyarankan para imam dan pemimpin agama memakai bahasa agama dalam menyadarkan masyarakat.

Ulyas menyampaikan hal itu di Manado, dengan latar kekhawatiran atas kerusakan alam yang dinilainya sudah pada tingkat membahayakan. Ia memandang upaya merawat alam bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari ikhtiar bersama mewujudkan kehidupan yang damai dan berkelanjutan.

Mengapa Imam Dinilai Punya Posisi Strategis

Bagi Ulyas, imam dan pemimpin agama punya kedekatan langsung dengan umat. Legitimasi keagamaan yang melekat pada mereka, menurutnya, menjadi modal untuk menerjemahkan kepedulian terhadap lingkungan ke dalam nilai-nilai yang dipahami dan diamalkan warga sehari-hari.

Ia menegaskan peran imam di era modern tidak lagi terbatas pada kepemimpinan ibadah. Imam, ujar dia, dapat berperan sebagai pendidik perdamaian, pembangun jembatan antar-komunitas, dan diplomat masyarakat, termasuk dalam mendorong kepedulian terhadap lingkungan.

Ajakan Pakai Bahasa Agama untuk Menyadarkan Warga

Ulyas mengajak para pemimpin agama menyampaikan pesan lingkungan dengan cara yang menyentuh dimensi batin dan moral umat.

"Mari gunakan bahasa agama untuk menyadarkan diri kita agar tidak gampang merusak alam. Perusakan alam sudah masuk pada ambang yang sangat membahayakan sekarang ini. Mari kita menyentuh mereka dengan menggunakan bahasa agama agar betul-betul memelihara alam semesta ini," katanya.

Ia menilai persoalan lingkungan tidak cukup dihadapi lewat pendekatan teknis maupun regulasi semata. Kesadaran keagamaan, menurutnya, bisa melengkapi upaya tersebut karena menyentuh tanggung jawab manusia terhadap alam dari sisi moral.

Merawat Alam Dinilai Syarat Hidup Damai

Dalam pandangan Ulyas, menjaga alam bukan pilihan tambahan, melainkan prasyarat bagi kehidupan yang damai. Ia menegaskan hal itu sebagai pesan utama yang ingin disampaikan kepada umat melalui para pemimpin agama.

"Jika kita ingin hidup damai di muka bumi ini, persyaratannya adalah kita harus merawat dan memelihara alam," katanya.

Kanwil Kemenag Sulut berharap arahan ini diteruskan para imam dan pemimpin agama di seluruh daerah, sehingga pesan pelestarian lingkungan masuk ke ruang-ruang ibadah dan kehidupan warga Manado serta kabupaten/kota lain di Sulawesi Utara.

Reporter: Sutomo
Sumber: manado.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top