BITUNG — Pelatihan jurnalistik ini menyasar siswa pilihan dari kalangan pengurus OSIS dan perwakilan kelas 10 dan 11. Kegiatan berlangsung sejak pagi dan dibuka Kepala SMAN 2 Bitung Maxy Awondatu SPd MPd.
Dalam sambutannya, Maxy menekankan agar pelajar tidak sekadar menjadi konsumen informasi. Menurut dia, siswa perlu berpikir kritis dan cakap memilah berita valid dari paparan hoaks.
"Pelatihan ini diprogramkan agar siswa-siswi kita memiliki wadah yang tepat dalam mengembangkan bakat menulis, melakukan teknik wawancara dengan benar, hingga menyajikan informasi secara faktual, beretika, dan bertanggung jawab. Dan juga kita tidak boleh menyalahgunakan sosmed," ujar Maxy Awondatu saat membuka acara tersebut.
Sepanjang kegiatan, siswa menerima materi tentang pers, jurnalistik, dan reportase dari Tim JPS yang terdiri dari Dion Lande, Harto Marentek, dan Yoseph Ikanubun. Materi dasar 5W+1H menjadi bekal awal sebelum peserta masuk ke sesi praktik.
Usai menerima materi, seluruh peserta langsung ditantang mengikuti simulasi wawancara dan menyusun naskah berita pendek. Latihan itu disiapkan sebagai jalur mencetak jurnalis muda yang mengisi mading dan portal digital sekolah.
Dion Lande menyebut harapan tim pengajar terhadap hasil pelatihan ini. Ia ingin siswa lebih percaya diri menghadapi persoalan di sekitar mereka.
"Harapan kami semoga siswa-siswi bisa lebih berani dalam menganalisis persoalan, dan menuangkannya dalam berita," ujar Dion Lande.
Kegiatan di ruang sekolah itu melibatkan siswa yang mayoritas merupakan pengurus OSIS serta perwakilan kelas 10 dan 11. Sekolah menggandeng Tim Jurnalis Pendidikan Sulut sebagai pemateri.
Pelatihan menyasar kemampuan literasi dan kecakapan digital generasi muda. Selain menulis, peserta dilatih memahami etika penyajian informasi dan tanggung jawab dalam memakai media sosial.