SULAWESI UTARA — PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) mengantongi IUP eksplorasi logam tanah jarang di Mamuju, Sulawesi Barat, tetapi pengembangannya menghadapi empat hambatan sekaligus: teknis, sosial, teknologi, dan waktu. Presiden Direktur Perminas Gilarsi Wahju Setijono menyebut percepatan eksplorasi jadi kunci sebelum potensi ekonomi komoditas ini bisa dihitung.
Gilarsi menyampaikan hal itu kepada awak media. Menurut dia, tantangan terbesar justru datang dari hal yang paling dekat dengan lokasi tambang, yakni pemahaman masyarakat sekitar.
Masyarakat Belum Familiar, Edukasi Jadi Prioritas
Warga di sekitar wilayah eksplorasi di Mamuju dinilai belum sepenuhnya mengenal apa itu logam tanah jarang dan apa dampaknya bagi daerah mereka. Kondisi ini membuka ruang munculnya gejolak sosial.
"Selain tantangan teknis, tentu ada tantangan sosial juga. Karena masyarakat di sana belum familiar. Jadi proses edukasi juga sedang terjadi," ujar Gilarsi, dikutip Senin (21/9).
Perminas tidak menampik potensi gesekan itu. Namun, Gilarsi menilai persoalan tersebut bisa diredam lewat pendekatan edukasi, bukan represi.
"Bahwa ada gejolak sosial, pasti ada. Tapi ini persoalan edukasi saja," katanya.
Teknologi dan Engineering Belum Dikuasai Sepenuhnya
Dari sisi teknis, tantangan muncul pada aspek engineering dan penguasaan teknologi. Pengembangan LTJ tidak berhenti di tahap penambangan. Komoditas ini butuh proses pengolahan lanjutan agar menghasilkan produk bernilai tambah, dan di situlah kemampuan teknis diuji.
Gilarsi melihat peluang kolaborasi internasional terbuka lebar. Ketegangan geopolitik global, terutama antara China dan negara-negara di luar China, membuat pihak-pihak yang sama-sama terdampak mencari mitra baru.
"Sebetulnya karena pergulatan geopolitik ini, terutama tensi China dan non-China, akhirnya pihak-pihak yang sama-sama terdampak ini saling berkumpul. Jadi banyak yang willing to collaborate," ujarnya.
Sejumlah negara sudah menunjukkan ketertarikan. Yang paling aktif mendekat, menurut Gilarsi, adalah India, Jepang, Taiwan, dan Amerika Serikat.
"Yang paling engage itu ada India, ada Jepang, ada Taiwan, ada Amerika juga. Cukup banyak," ungkapnya.
Kolaborasi yang dibidik bukan sekadar investasi. Perminas ingin ada pertukaran teknologi dan pengetahuan, di mana masing-masing pihak menawarkan kemampuan yang dimiliki untuk dikembangkan bersama.
"Bisa saling berbagi. Mereka punya teknologi apa, kita punya apa, begitu," pungkasnya.
Eksplorasi Dikebut dari 5 Tahun Jadi 9 Bulan
Faktor waktu menjadi tantangan keempat yang paling mendesak. Perminas tengah mempelajari metode accelerated exploration dan speedy exploration untuk memangkas durasi eksplorasi secara signifikan.
Dalam roadmap awal, eksplorasi diproyeksikan berlangsung sekitar lima tahun. Perminas berupaya memadatkan proses itu menjadi sekitar sembilan bulan agar gambaran awal soal potensi LTJ Indonesia lebih cepat diketahui.
"Yang ketiga adalah waktu. Bagaimana kita bisa mengompres waktu," ujar Gilarsi.
"Kira-kira kita membutuhkan waktu sekitar sembilan bulan," tambahnya.
Sejumlah metode baru disebut mulai ditemukan tim di lapangan. Meski demikian, Gilarsi mengakui aspek keekonomian dari metode cepat tersebut belum bisa dipastikan. Yang jelas, pendekatan ini menaikkan tingkat keyakinan terhadap potensi sumber daya yang ditemukan.
"Apakah ini juga bisa diterima secara ekonomi, kita belum tahu. Tapi yang penting kita memiliki confidence level yang lebih tinggi," katanya.
Bagi Indonesia, LTJ menyimpan nilai strategis karena menjadi bahan baku magnet, baterai, dan komponen elektronik yang permintaannya terus tumbuh. Posisi Perminas sebagai perusahaan mineral nasional membuat laju eksplorasi di Mamuju menjadi penentu seberapa cepat Indonesia bisa masuk ke rantai pasok global komoditas ini.