Guru Besar Universitas Sam Ratulangi Prof Dr Joy Tulung menilai Sulawesi Utara perlu mendorong investasi yang menciptakan lapangan kerja, bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi. Data ketenagakerjaan Mei 2026 menunjukkan tingkat pengangguran terbuka 5,85 persen dan pekerja informal 55,90 persen dari total pekerja. Joy menyampaikan pandangan itu di Manado, Jumat.
MANADO — Guru Besar Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Prof Dr Joy Tulung menilai pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara belum otomatis berbuah kesempatan kerja. Data ketenagakerjaan Mei 2026 mencatat tingkat pengangguran terbuka 5,85 persen, sementara pekerja informal mencapai 55,90 persen dari total pekerja. Gini Ratio Maret 2026 juga naik tipis ke 0,344.
Angka-angka itu, menurut Joy, memberi pesan yang cukup jelas soal arah pembangunan daerah. Penciptaan lapangan kerja berkualitas dan pemerataan hasil pembangunan perlu mendapat perhatian lebih besar.
Investasi yang Diminta: Ciptakan Kerja, Bangun Rantai Pasok Lokal
Joy tidak menolak investasi masuk ke Sulut. Yang ia soroti adalah jenis investasi yang dibutuhkan daerah.
"Data ketenagakerjaan memberi pesan yang cukup jelas. Tingkat pengangguran terbuka pada Mei 2026 masih berada pada 5,85 persen, sementara pekerja informal mencapai sekitar 55,90 persen dari total pekerja. Pada saat yang sama, Gini Ratio Maret 2026 sedikit meningkat menjadi 0,344," kata Joy, di Manado, Jumat.
Investasi yang diperlukan, lanjutnya, adalah yang menciptakan pekerjaan, membangun rantai pasok lokal, menggunakan produk daerah, melakukan transfer teknologi, dan memberi nilai tambah pada komoditas Sulawesi Utara.
Hilirisasi Kelapa, Pala, dan Perikanan Harus Lebih Konkret
Sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan pariwisata diminta tidak berhenti pada produksi primer. Hilirisasi perlu menjadi agenda yang lebih konkret.
Kelapa, pala, perikanan, produk hortikultura, dan kekayaan laut Sulut harus semakin banyak diolah di daerah sebelum keluar. Dengan begitu, nilai tambah dan lapangan kerja ikut tinggal di Sulawesi Utara.
Posisi di Bibir Pasifik Belum Jadi Satu Strategi Besar
Sulut punya keunggulan yang tidak dimiliki banyak provinsi lain. Letaknya di bibir Pasifik dan relatif dekat dengan pasar Asia Timur.
Konektivitas udara dan laut, logistik ekspor, pariwisata internasional, industri perikanan, serta pengembangan ekonomi biru dinilai perlu dijadikan satu strategi besar. Bukan program yang berjalan sendiri-sendiri.
Ukuran Pembangunan: Warga Lebih Mudah Dapat Kerja
Joy menegaskan ukuran pembangunan tidak berhenti pada persentase pertumbuhan ekonomi, nilai investasi yang masuk, atau jumlah proyek yang dibangun.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah masyarakat lebih mudah memperoleh pekerjaan, petani dan nelayan memperoleh harga yang lebih baik, UMKM naik kelas, dan anak muda tidak harus meninggalkan Sulut untuk mencari kesempatan.
Kemiskinan dan ketimpangan juga harus terus menurun. Di usia ke-62 Sulawesi Utara, Joy menilai daerah ini punya modal untuk melangkah lebih jauh.
Tantangannya sekarang, kata dia, mengubah pertumbuhan menjadi kesempatan, investasi menjadi pekerjaan, dan pembangunan menjadi kesejahteraan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
"Semoga Sulawesi Utara semakin maju, produktif, inklusif, dan mampu mengambil peran lebih besar sebagai gerbang Indonesia ke kawasan Asia Pasifik," katanya.