SULAWESI UTARA — Lonjakan tarif pengangkutan laut membuat para pembeli LPG di Asia menarik diri dari kontrak pengiriman jarak jauh. Bloomberg melaporkan, sedikitnya dua kargo yang dijadwalkan dimuat pada Juni dari terminal ekspor di Pantai Teluk AS telah dibatalkan. Beberapa pengiriman lain masih dalam pembahasan untuk dihentikan.
Indikator profitabilitas ekspor LPG AS ke Asia Timur, yang diukur dari selisih harga Far East Index dengan Mont Belvieu, mengalami penyempitan. Di saat yang sama, ongkos kapal justru meroket signifikan. Alhasil, potensi keuntungan yang sebelumnya cukup besar bagi para pedagang langsung terkikis habis.
India menjadi negara yang paling merasakan dampak situasi ini. Sebelum konflik Iran memanas, sekitar 90 persen pasokan LPG negara tersebut bergantung pada Timur Tengah. Gangguan di Selat Hormuz memaksa New Delhi mencari sumber alternatif ke Amerika Serikat, namun kini pilihan itu ikut tersendat karena biaya logistik yang menggila.
LPG sendiri merupakan bahan bakar utama untuk memasak bagi ratusan juta rumah tangga di India. Di China, gas ini menjadi bahan baku vital bagi industri petrokimia. Gangguan pasokan berpotensi menaikkan harga di pasar domestik kedua negara tersebut.
Kekacauan rute pengiriman ini bermula dari eskalasi konflik Iran yang mengganggu jalur strategis Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan pintu keluar utama minyak dan gas dari kawasan Teluk. Ketidakpastian keamanan di sana memaksa kapal-kapal mengambil rute lebih panjang atau menghentikan operasi, yang pada akhirnya mendongkrak tarif pengangkutan laut secara global.
Para importir Asia kini berada dalam posisi sulit: antara membayar mahal ongkos kirim dari AS atau menghadapi risiko kekurangan pasokan dari Timur Tengah. Belum ada kepastian kapan situasi ini akan mereda, sementara kebutuhan energi di kawasan Asia terus meningkat.