SULAWESI UTARA — Baterai adalah komponen paling vital pada motor listrik. Komponen ini menentukan jarak tempuh sekaligus performa kendaraan secara keseluruhan. Namun, banyak pengguna tanpa sadar melakukan kebiasaan yang mempercepat degradasi baterai.
Alfian, pemilik bengkel AD Service Solo, menjelaskan bahwa kesalahan fundamental ada pada kebiasaan pengisian daya. "Rata-rata user kalau belum sampai merah belum di-charge. Yang kesalahannya di situ. Sebenarnya kalau kurang satu bar itu paling tidak sudah di-charge, soalnya baterainya sudah kurang 50 persen," kata Alfian kepada Kompas.com, belum lama ini.
Menunggu baterai benar-benar habis sebelum dicas adalah musuh utama. Menurut Alfian, kondisi baterai di bawah 50 persen sudah masuk zona kritis. Membiarkan baterai terlalu sering di level hampir kosong akan mempercepat penurunan kapasitas dan performa.
Fitur pengisian cepat memang praktis, tapi ada konsekuensinya. "Kalau keseringan dipakai fast charging juga kesehatan baterai pasti berkurang. Masa pakai pasti juga akan menurun. Yang seharusnya sampai tiga tahun, mungkin dua tahun sudah cepat habis," ujar Alfian.
Masalah lain muncul pada motor listrik dengan baterai tipe SLA (Sealed Lead Acid). Jenis ini tidak memiliki fitur auto cut-off. "Jadi kalau penuh kadang masih ngisi terus. Baterainya tetap panas dan cepat gelembung," kata Alfian. Ia menyarankan pemilik mencabut charger segera setelah indikator menunjukkan penuh.
Cara penyimpanan kendaraan juga memengaruhi kondisi baterai. Motor listrik yang terlalu lama terparkir di bawah sinar matahari langsung berpotensi mengalami kenaikan suhu. "Baterai kan ditanam di bawah, jadi kalau sering kena panas otomatis bagian dalamnya juga panas. Itu berpengaruh ke temperatur baterai," jelas Alfian.
Ironisnya, motor yang terlalu jarang dipakai justru lebih cepat rusak. "Malah yang bikin cepat rusak itu jarang dipakai. Paling tidak tiga sampai empat hari sekali di-charge tidak apa-apa. Kalau satu bulan sekali baru dipakai itu yang sering jadi masalah," katanya. Alfian menyarankan pemilik tetap mengisi daya secara berkala meski motor tidak digunakan.
Alfian juga mengingatkan agar pengguna tidak menggunakan charger sembarangan. "Kalau motornya sebenarnya tidak support fast charging tapi dipaksa pakai charger yang lebih besar, baterainya jadi panas. Itu yang bisa mempercepat kerusakan," ucapnya. Arus dan tegangan yang tidak sesuai spesifikasi membuat baterai bekerja lebih berat dan berpotensi menimbulkan panas berlebih.
Dengan menghindari kelima kebiasaan tersebut, pengguna motor listrik bisa menjaga performa baterai tetap optimal sekaligus memperpanjang usia pakainya.