MANADO — Arus uang elektronik di Sulawesi Utara mengalir deras sepanjang triwulan I 2026. Deputi Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Sulut Purwanto mengungkapkan, transaksi BI-FAST yang mencakup transfer incoming dan outgoing mencapai Rp 43,76 triliun, tumbuh 39,67 persen secara year on year (yoy).
Angka itu jauh melampaui pertumbuhan kanal nontunai lain seperti BI-RTGS yang tercatat Rp 5,94 triliun (tumbuh 6,38 persen yoy) dan SKNBI yang hanya tumbuh 1,34 persen yoy.
Purwanto menyebut metode pembayaran yang paling sering dipakai masyarakat adalah dompet digital (e-wallet), mobile banking, dan standar kode QR nasional atau QRIS. Praktis, cepat, dan efisien menjadi alasan utama pergeseran ini.
"Perkembangan tersebut menunjukkan semakin kuatnya pemanfaatan kanal pembayaran digital oleh masyarakat di Sulut," kata Purwanto di Manado, Jumat.
Secara khusus, nominal transaksi uang elektronik di Sulut tercatat sebesar Rp 748 miliar. Realisasi ini tumbuh 24,25 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan yang konsisten di semua kanal ini dinilai sebagai indikasi ekosistem digital yang semakin matang di provinsi berpenduduk sekitar 2,6 juta jiwa tersebut. Perbankan dan penyedia jasa pembayaran dinilai berhasil mendorong adopsi teknologi di tengah masyarakat.
Di sisi lain, pengelolaan uang Rupiah di Sulut pada triwulan I 2026 mencatatkan net inflow atau uang masuk sebesar Rp 513,57 miliar. Kondisi ini disebut sejalan dengan pola normalisasi kebutuhan uang tunai masyarakat.
Pada periode sebelumnya, kebutuhan uang tunai sempat meningkat tajam akibat libur hari besar keagamaan Natal dan Tahun Baru. Kini, peredaran uang kembali ke tingkat normal seiring aktivitas ekonomi yang berjalan standar.
Meski transaksi digital meningkat, BI memastikan ketersediaan uang tunai di seluruh anjungan tunai mandiri (ATM) dan kas keliling di Sulut tetap terjaga untuk melayani masyarakat yang masih membutuhkan layanan fisik.