SULAWESI UTARA — Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Djoko Siswanto, mengonfirmasi bahwa T&C Wilayah Kerja MNK Rokan telah ditandatangani Menteri ESDM pada Rabu (19/8). Dengan disetujuinya dokumen tersebut, proses selanjutnya tinggal menunggu penandatanganan kontrak bagi hasil (PSC) khusus MNK Rokan.
"Selanjutnya teken PSC MNK Rokan untuk melanjutkan pengeboran eksplorasi atau deliniasi," kata Djoko kepada Dunia Energi.
Direktur Utama PHR, Muhammad Arifin, mengungkapkan pihaknya akan memulai dengan tiga sumur appraisal pada akhir tahun ini. Namun, ia menegaskan bahwa jumlah tersebut hanyalah permulaan. Jika hasilnya positif, PHR akan melanjutkan dengan delapan sumur demonstrasi sebelum akhirnya mengebor sekitar 400 sumur produksi.
“Tiga sumur (akhir tahun), lalu nanti delapan sumur demonstratenya. Baru insya Allah nanti kalau sukses, itu hampir sekitar 400-an sumurnya,” ujar Arifin di Bogor, Rabu (29/7).
Pengembangan MNK di Rokan menjadi proyek percontohan berskala besar pertama di Indonesia. Teknologi yang digunakan tergolong baru dan mahal, sehingga PHR masih mengkaji apakah proyek ini akan digarap sendiri melalui entitas khusus atau melibatkan mitra.
SKK Migas menekankan pentingnya penambahan sumur appraisal tahun ini untuk memastikan proyek layak secara finansial. Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, menyatakan bahwa data dari sumur-sumur tersebut akan menjadi dasar keputusan investasi jangka panjang.
“Minyak non-konvensional tahun ini kami harapkan Pertamina Hulu Rokan menambah 2–3 sumur appraisal untuk meyakinkan kita bahwa sumur-sumur non-konvensional ini memang layak dan ekonomis untuk dikembangkan,” kata Rikky dalam DETalk yang digelar Dunia Energi, Februari lalu.
Pemisahan wilayah MNK dari blok konvensional Rokan menjadi kunci penting. Dengan memiliki kontrak sendiri, pengembangan MNK mendapat fleksibilitas fiskal dan regulasi yang berbeda, mengingat karakternya yang padat modal dan berisiko tinggi dibandingkan operasi migas konvensional.
Keberhasilan proyek ini akan menentukan masa depan eksplorasi minyak serpih (shale oil) di Indonesia. Jika terbukti ekonomis, Rokan bisa menjadi model bagi pengembangan MNK di wilayah lain, sekaligus menahan laju penurunan produksi minyak nasional yang selama ini mengandalkan sumur-sumur tua.