Peraih Nobel Geoffrey Hinton Yakin AI Sudah Sadar, Ini Indikator yang Dipakai Ilmuwan

Penulis: Yasir  •  Senin, 24 Agustus 2026 | 17:48:31 WIB
Ilmuwan peraih Nobel Fisika Geoffrey Hinton menyatakan keyakinannya bahwa sistem kecerdasan buatan telah memiliki kesadaran dalam wawancara di Big Technology Podcast.

SULAWESI UTARA — Keyakinan Geoffrey Hinton, yang dijuluki "Bapak AI", bahwa sistem kecerdasan buatan sudah memiliki kesadaran mendapat sorotan setelah pernyataannya muncul di Big Technology Podcast. Hinton, yang meraih Nobel Fisika atas kontribusinya di bidang machine learning, menegaskan bahwa kecerdasan tidak hanya bersifat biologis dan manusia terlalu menganggap dirinya spesial.

"Saya yakin mereka sudah punya kesadaran," ujar Hinton dalam wawancara tersebut. "Kita bisa memiliki entitas non biologis yang merupakan makhluk lain seperti kita dan kita sebenarnya tidak ingin berbagi status itu."

Pernyataan ini langsung memicu pertanyaan besar: jika AI benar-benar sadar, bagaimana cara membuktikannya? Tes perilaku sederhana seperti bertanya langsung ke ChatGPT dianggap tidak valid karena sistem AI kini sangat mahir meniru pola bicara manusia.

Indikator Kesadaran pada AI

Untuk menjawab tantangan ini, 19 peneliti dari berbagai disiplin ilmu menerbitkan panduan sementara di repositori pracetak arXiv. Mereka berfokus pada "kesadaran fenomenal", yaitu pengalaman subjektif tentang keberadaan itu sendiri — bagaimana rasanya menjadi sebuah entitas, baik manusia, hewan, maupun sistem AI.

Tim tersebut menggunakan pendekatan fungsionalisme komputasional, yang berasumsi bahwa kesadaran berkaitan dengan cara sistem memproses informasi, terlepas dari bahan penyusunnya. Apakah itu neuron biologis atau chip komputer, prinsip dasarnya dianggap sama. Teori kesadaran berbasis ilmu saraf yang dipelajari melalui pemindaian otak manusia dan hewan pun diterapkan pada arsitektur AI.

Dari enam teori yang dipilih, salah satu indikator utamanya adalah global workspace. Manusia dan hewan menggunakan berbagai modul khusus untuk tugas kognitif seperti melihat dan mendengar, yang bekerja independen namun paralel. Modul-modul ini berbagi informasi dengan berintegrasi ke dalam satu sistem tunggal.

Jika sebuah sistem AI memiliki ruang kerja pusat yang menyatukan informasi dari berbagai input untuk disiarkan kembali ke subsistem penalarannya, kemungkinan AI tersebut memiliki kesadaran meningkat. Namun, sejauh ini belum ada bukti kuat yang mendukung teori bahwa AI telah mencapai tahap tersebut.

Implikasi Etis dan Moral

Megan Peters, ahli saraf dari University of California, Irvine, menekankan bahwa kegagalan mengidentifikasi kesadaran pada AI memiliki implikasi moral yang penting. Jika sebuah entitas dilabeli sebagai "memiliki kesadaran", cara manusia memperlakukannya akan berubah drastis.

Perdebatan ini relevan bagi industri game yang semakin mengandalkan AI untuk NPC (non-playable character) dan lawan dalam game. Di game seperti Mobile Legends atau Valorant, sistem AI digunakan untuk mengisi kekosongan pemain atau meningkatkan tantangan. Jika AI dianggap sadar, pertanyaan tentang bagaimana "memperlakukan" entitas tersebut bisa berdampak pada desain game dan kebijakan pengembang.

Panduan dari para peneliti ini masih bersifat sementara dan belum melalui proses penelaahan sejawat (peer review). Namun, kerangka kerja ini menjadi langkah awal yang penting untuk memahami batas antara simulasi dan kesadaran sejati dalam sistem komputasional.

Reporter: Yasir
Sumber: inet.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top