SULAWESI UTARA — Laporan keuangan pribadi presiden yang pertama kali diungkap oleh Reuters menunjukkan Trump membeli saham SpaceX di tengah fluktuasi harga pasca-pencatatan saham perdana. Pada tanggal pembelian, saham SpaceX berada di kisaran USD 150-an, jauh di bawah puncaknya yang sempat menembus USD 200.
Namun, kinerja saham tersebut terus melemah. Pada penutupan perdagangan Senin lalu, harga saham SpaceX kembali ke level IPO di USD 135 per lembar. Artinya, portofolio investasi presiden saat ini berada dalam posisi rugi secara nilai pasar (unrealized loss).
Pembelian saham ini terjadi di tengah hubungan yang dekat antara Trump dan Elon Musk, meskipun sempat terjadi ketegangan pada musim panas tahun lalu. Saat itu, Musk menuduh presiden menahan berkas-berkas Departemen Kehakiman terkait Jeffrey Epstein karena namanya kerap disebut dalam dokumen tersebut.
Di sisi lain, hubungan bisnis keduanya justru menguntungkan SpaceX. Berdasarkan analisis Wall Street Journal, perusahaan antariksa tersebut terus memperoleh peningkatan jumlah kontrak pemerintah dan diuntungkan oleh kebijakan deregulasi yang dijalankan pemerintahan Trump.
Juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, menyatakan bahwa portofolio saham presiden dikelola oleh lembaga keuangan pihak ketiga dan mereplikasi "indeks yang diakui, seperti Schwab 1000." Pernyataan ini menunjukkan bahwa pembelian saham SpaceX mungkin bukan keputusan langsung dari Trump secara pribadi, melainkan bagian dari strategi investasi otomatis yang mengikuti indeks.
Menariknya, SpaceX sempat melobi indeks-indeks populer untuk mengubah aturan mereka agar saham perusahaan bisa lebih cepat masuk dalam daftar konstituen. Akibatnya, banyak investor yang secara tidak sadar memiliki eksposur terhadap saham SpaceX melalui reksa dana indeks atau ETF yang mereka pegang.
Fenomena ini menjadi catatan penting bagi investor ritel, termasuk di Indonesia. Saham yang baru melantai sering kali mengalami volatilitas tinggi dalam beberapa pekan pertama. Pola yang terjadi pada SpaceX — dari puncak USD 200-an lalu turun ke level IPO — menunjukkan bahwa membeli saham pada hari-hari awal perdagangan membawa risiko penurunan nilai yang signifikan.
Bagi pembaca yang ingin mulai berinvestasi di pasar saham global, pelajaran dari kasus ini adalah pentingnya memahami valuasi perusahaan sebelum membeli di harga pasar, bukan sekadar mengikuti momentum IPO. Kepemilikan tidak langsung melalui indeks juga bisa menjadi alternatif bagi investor yang ingin terekspos ke perusahaan seperti SpaceX tanpa harus menebak waktu masuk yang tepat.