SULAWESI UTARA — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur mencatat 1.197,32 hektare dari total lahan terdampak karhutla merupakan area perkebunan dan lahan perusahaan. Sisanya terdiri atas 32,84 hektare hutan dan 30,71 hektare kebun warga.
"Yang kebakar itu seperti perkebunan, lahan warga, cuma paling banyak merupakan lahan milik perusahaan," kata Pelaksana Harian Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kaltim Sugeng Priyanto, Sabtu (22/8).
Dari sepuluh kabupaten/kota di Kaltim, Kutai Kertanegara mencatat luasan karhutla terbesar. Disusul Kutai dengan 71 kejadian, Paser 105 kejadian, Samarinda 69 kejadian, dan Berau 38 kejadian.
Kementerian Kehutanan telah menjatuhkan sanksi kepada PT PSR di Kaltim terkait karhutla ini. Sebelumnya, empat perusahaan di Kalimantan Barat juga kena sanksi serupa, yakni PT WEL, PT FI, PT MPK, dan PT WSP.
Karhutla di Kalimantan memicu kabut asap yang menyebar hingga Sarawak, Malaysia. Negara bagian itu sampai menutup sekolah untuk melindungi murid-murid dari dampak buruk udara tercemar.
Di Kalimantan Barat, operasi water bombing dan modifikasi cuaca berhasil menangani 13 hektare lahan, sementara operasi darat mengatasi 104,8 hektare. Di Kalimantan Tengah, 25 titik api masih terpantau dengan 55,63 hektare lahan berhasil ditangani hingga Minggu (23/8).
BMKG menyebut kualitas udara di Pekanbaru, Riau, masuk kategori berbahaya. Sementara di Kota Batam, Kepulauan Riau, kebakaran 35 hektare lahan di Jalan Trans Barelang, Kelurahan Tembesi, Kecamatan Sagulung, baru padam pada Minggu setelah tim gabungan mengerahkan sejumlah mobil damkar.
Di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, titik api terpantau Sabtu pukul 18.00 WIB di Bukit Sitalmak Talmak, Desa Dolok Raja, Kecamatan Harian. Sekitar lima hektare lahan terbakar dan api dilaporkan padam pada keesokan harinya.
Karhutla dengan cakupan terluas terjadi di Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Kebakaran berlangsung sejak 18 Juli hingga 23 Agustus di tujuh distrik: Teluk Kimi, Nabire Kota, Nabire Barat, Wanggar, Nabire, Makimi, dan Yaur.
Cuaca panas, angin kencang, serta banyaknya semak dan ilalang kering menjadi pemicu utama. BPBD Nabire mendata 396,13 hektare lahan terbakar dan empat kepala keluarga terdampak.
"Hingga Minggu, sebagian titik api masih belum dapat dipadamkan karena tidak dapat dijangkau armada pemadam kebakaran," demikian rilis resmi BNPB. Pemerintah daerah tengah mengidentifikasi kebutuhan water bombing dan tambahan armada untuk area yang sulit dijangkau penanganan darat.