SULAWESI UTARA — Generalist resmi menyandang status unicorn dengan valuasi US$ 3 miliar (sekitar Rp 49,5 triliun). Pendanaan tambahan yang dipimpin 8VC ini melengkapi total perolehan dana di putaran Seri B menjadi US$ 600 juta, menurut dokumen regulasi dan sumber yang mengetahui langsung proses tersebut.
Putaran ini datang hanya beberapa bulan setelah valuasi perusahaan menyentuh US$ 2 miliar. Generalist sendiri didirikan pada 2024 oleh Pete Florence dan Andy Zeng (eks Google DeepMind) serta Andrew Barry (eks Boston Dynamics).
Produk andalan Generalist adalah model fondasi (foundation model) yang dirancang menjadi "otak" untuk berbagai jenis robot. Klaim utamanya: model terbaru bernama Gen 1.5 memungkinkan robot menguasai tugas baru hanya dengan menonton demonstrasi video berdurasi 3–12 detik.
Pendekatan ini berbeda dari metode tradisional yang butuh pelatihan khusus untuk satu tugas. Startup ini disebut tengah bekerja dengan sejumlah pelanggan awal dan memakai umpan balik mereka untuk menyempurnakan model sesuai kebutuhan spesifik industri.
Gelombang pendanaan ini mencerminkan keyakinan investor bahwa industri robotika akan segera mencapai titik balik—di mana robot mampu mengerjakan tugas umum tanpa dilatih untuk setiap aktivitas secara spesifik. 8VC dan Radical Ventures menjadi pendukung awal, bersama Nvidia, Union Square Ventures, Bezos Expeditions, dan peneliti AI ternama Fei-Fei Li.
Namun, tidak semua pihak sepakat. Sebagian venture capitalist memperingatkan bahwa model robotika yang benar-benar generalis masih butuh waktu bertahun-tahun lagi. Alasannya, robot tidak bisa dilatih dengan data internet dalam skala raksasa seperti yang dilakukan model bahasa besar (LLM) semacam ChatGPT.
Generalist bukan satu-satunya pemain di sektor ini. Mereka bersaing langsung dengan Physical Intelligence yang kabarnya bernilai US$ 11 miliar, serta Skild AI yang didukung SoftBank dengan valuasi US$ 14 miliar. Genesis AI juga dikabarkan sedang dalam negosiasi pendanaan di angka US$ 3 miliar.
Perbedaan utama Generalist terletak pada kecepatan adaptasi modelnya. Kemampuan belajar dari video pendek menjadi nilai jual yang sulit ditandingi kompetitor, meski belum ada bukti publik yang memverifikasi klaim performa tersebut secara independen.
Bagi pengamat industri, pertarungan sesungguhnya bukan hanya soal teknologi, tapi juga siapa yang bisa meyakinkan pabrikan robot untuk mengadopsi model mereka sebagai standar industri. Generalist masih tertinggal dari segi valuasi, namun pendanaan segar ini memberi mereka amunisi untuk mengejar.