SULAWESI UTARA — Kehadiran Apple di pasar ponsel lipat memang sudah lama dinanti. Namun, keterlambatan ini memberi waktu bagi para pesaingnya—Samsung, Google, Huawei, Motorola, dan Oppo—untuk mengasah kemampuan menciptakan ponsel lipat yang tipis, ringan, dan bertenaga. Samsung, khususnya, disebut hampir menyempurnakan seni melipat layar.
Redaktur senior Future, Lance Ulanoff, yang berkesempatan memegang langsung Galaxy Z Fold 8, menilai perangkat tersebut sebagai "hal terdekat yang kita miliki saat ini dengan iPhone Ultra." Ia menyebut bentuknya yang seperti paspor saat dilipat terasa menarik, meski rasio layarnya yang 4:3 terbilang tidak biasa.
Menariknya, Z Fold 8 bukanlah ponsel lipat paling unggul di pasaran. Ia bukan yang tertipis, bukan yang punya baterai paling awet, dan hanya mengandalkan dua kamera belakang. Namun, kombinasi antara desain, layar nyaris tanpa bekas lipatan, dan bobot yang setara flagship biasa membuatnya terasa istimewa.
Ponsel ini sengaja diposisikan Samsung sebagai jembatan antara Galaxy Z Flip yang modis dan Galaxy Z Fold 8 Ultra yang fokus pada produktivitas. Strategi ini diharapkan mampu memperluas pasar yang selama ini masih sangat kecil.
Laporan menyebutkan Galaxy Z Fold 8 sempat sold out dan Samsung tengah menambah produksi satu juta unit lagi. Total penjualan lini Z8 (Fold, Flip, dan Ultra) diperkirakan mencapai 4-5 juta unit. Angka ini terdengar besar, tapi jika dibandingkan dengan iPhone, perbedaannya sangat jauh.
Sebagai gambaran, pemesanan awal iPhone 16 pada 2024 saja dilaporkan mencapai 37 juta unit. Bahkan, pada kuartal Desember tahun itu, Apple menjual lebih dari 77 juta iPhone dan menutup tahun dengan total 217 juta unit terjual. Artinya, penjualan satu lini iPhone bisa 40 kali lipat lebih banyak dari total ponsel lipat Samsung.
Alih-alih menjadi terobosan, iPhone Ultra justru diyakini akan mengikuti pola desain yang sama dengan Galaxy Z Fold 8. Layar lipatnya diperkirakan berukuran 5,5 inci saat tertutup dan 7,8 inci saat terbuka, dengan paduan material aluminium dan titanium—persis seperti kompetitornya.
Kabar yang beredar menyebutkan Apple akan memakai layar dari Samsung Display. Ketebalannya pun diprediksi 4,5 mm saat terbuka, tidak lebih tipis dari Z Fold 8. Perbedaan desain utama mungkin hanya pada penggunaan "liquid metal" untuk menghilangkan bekas lipatan sepenuhnya.
Keunggulan Apple justru diprediksi datang dari sektor performa. Chip A20 dengan RAM 12GB dan modem seluler C2 buatan sendiri disebut akan membuat iPhone Ultra menjadi ponsel lipat tercepat, meski pengguna awam mungkin tidak merasakan bedanya.
Banyak pihak percaya Apple tidak perlu membuat ponsel lipat terbaik di dunia. Cukup menghadirkan produk yang solid, dan jutaan pengguna setia Apple yang selama ini menunggu akan berbondong-bondong membelinya. Jika itu terjadi, gengsi merek Apple lah yang bisa mendorong pasar ponsel lipat ke skala yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.
Bagi konsumen Indonesia yang tech-savvy, kehadiran iPhone Ultra pada 9 September nanti akan menjadi momen penting. Pertanyaannya, apakah Apple mampu melampaui standar yang sudah ditetapkan Samsung, atau hanya akan menjadi pemain baru yang ikut meramaikan pasar yang masih mencari bentuknya.