SULAWESI UTARA — Howard Stern kembali ke SiriusXM pada 14 September mendatang dengan format baru: satu tayangan live setiap pekan setiap hari Senin, berkurang dari sebelumnya dua kali seminggu. Selain itu, ia akan mengadaptasi acara radionya menjadi episode streaming untuk HBO Max, lengkap dengan konten bonus.
Adaptasi video dari The Howard Stern Show akan tayang perdana di HBO Max pada 17 September dengan episode baru dirilis setiap Kamis. Ini menjadi pertama kalinya acara yang selama dua dekade lebih identik dengan format audio ini hadir dalam versi visual penuh untuk layanan streaming.
Kabar ini muncul setelah Stern meneken kontrak tiga tahun bersama SiriusXM di tengah isu pengunduran diri atau pembatalan acara. Sebelumnya ia sempat memperdayai pendengarnya dengan bercanda bahwa Andy Cohen akan mengambil alih kanalnya.
"Tidak ada orang lain yang seperti Howard, dan awal musim barunya adalah babak menarik dalam perjalanan luar biasa," ujar Scott Greenstein, Presiden dan Chief Content Officer SiriusXM, dalam pernyataan resmi. "Selama lebih dari dua dekade di SiriusXM, dia terus berkembang, mengejutkan audiens, dan menghadirkan percakapan serta momen yang hanya bisa dilakukan Howard."
Bersamaan dengan kembalinya Stern, kanal Howard 100 di SiriusXM akan menampilkan susunan program baru termasuk Wrap Up Wednesday, versi panjang dari Howard's Wrap Up Show yang dibawakan Gary Dell'Abate dan Jon Hein. Sementara itu, seksi Howard Stern di aplikasi SiriusXM juga diperluas dengan menghadirkan Howard Stern Decades, arsip konten dari era 80-an, 90-an, 2000-an, dan 2010-an.
Greenstein menambahkan bahwa pihaknya bangga Stern memilih melanjutkan kariernya di SiriusXM untuk tayangan live eksklusif dan perpustakaan klasiknya. "Howard, HBO Max, dan SiriusXM kini bekerja sama untuk menciptakan versi video baru yang menarik dari acaranya," katanya.
Kesepakatan ini menandai evolusi strategi distribusi konten Stern yang selama ini identik dengan radio satelit. Dengan masuknya HBO Max, jangkauannya kini merambah pasar streaming video yang jauh lebih luas, sejalan dengan tren konsolidasi industri media yang semakin mencampurkan format audio dan visual.