Industri Baterai China Terancam Kualitasnya, 600 Model Mobil Listrik Baru Meluncur Sepanjang 2026

Penulis: Saiful  •  Senin, 07 September 2026 | 10:03:31 WIB
Ketua CATL, Robin Zeng, menyoroti potensi cacat produk baterai di tengah peluncuran 600 model mobil listrik baru di China sepanjang 2026.

SULAWESI UTARA — China saat ini menjadi pasar kendaraan listrik paling agresif di dunia. Padatnya jadwal peluncuran model baru membuat produsen baterai seperti CATL (Contemporary Amperex Technology Co., Limited) angkat bicara soal potensi cacat produk yang mengintai di balik persaingan ketat itu.

Robin Zeng, Ketua CATL, menyebut angka 600 model EV yang meluncur dalam setahun sebagai bukti ekspansi industri yang luar biasa cepat. Namun, ia juga memperingatkan adanya sejumlah produk baterai yang mengalami kegagalan, meski tidak merinci pemasok atau merek mana yang dimaksud.

Tekanan Harga dan Siklus Produksi yang Kian Pendek

Persoalan kualitas ini muncul di tengah perang harga yang belum mereda. Data industri yang dikutip Car News China menunjukkan banyak model EV mengalami penurunan harga signifikan sepanjang paruh pertama 2026.

Di sisi lain, harga sel baterai lithium iron phosphate (LFP) dikabarkan sudah tembus di bawah 0,35 yuan per Wh. Kondisi ini menciptakan dilema besar bagi pabrikan: menekan biaya produksi sembari tetap mempertahankan standar keamanan dan durabilitas baterai.

Zeng juga menyoroti siklus pengembangan kendaraan yang semakin singkat. Menurutnya, waktu yang ada saat ini masih cukup bagi produsen untuk menemukan potensi cacat sebelum kendaraan masuk tahap produksi massal, namun kecepatan ini tetap menjadi tekanan tersendiri di lini riset dan pengembangan.

Gugatan Rp 36 Miliar ke Pemasok Baterai dan Insiden "Baterai Pisang"

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. Industri otomotif China sudah mencatat beberapa kasus besar terkait kualitas sel baterai dalam dua tahun terakhir.

Salah satunya terjadi pada akhir 2025, ketika Viridi E-Mobility Technology, anak perusahaan Geely, menggugat produsen baterai Sunwoda. Gugatan itu diajukan atas dugaan cacat kualitas sel baterai yang dipasok pada periode Juni 2021 hingga Desember 2023, dengan nilai tuntutan mencapai 2,31 miliar yuan. Sengketa ini akhirnya diselesaikan lewat kesepakatan damai, dan Sunwoda setuju membayar 608 juta yuan setelah memperhitungkan nilai yang sebelumnya telah ditanggung.

Kasus lain menyangkut baterai buatan CALB yang berdampak pada sekitar 213.000 unit mobil GAC AION. Sejumlah pemilik melaporkan gejala baterai menggelembung, kehilangan daya secara drastis, hingga kegagalan fungsi lainnya. Masalah ini bahkan populer dengan julukan "baterai pisang" karena beberapa sel baterai yang terdampak mengalami perubahan bentuk hingga melengkung. Menyusul kasus tersebut, CALB mengumumkan langkah perbaikan kualitas serta peningkatan prosedur inspeksi baterai.

Kualitas Baterai Jadi Penentu Keberlanjutan EV China

Meski demikian, Zeng menegaskan bahwa persoalan baterai pada kasus-kasus sebelumnya belum dapat dipastikan berkaitan langsung dengan semakin cepatnya siklus peluncuran kendaraan listrik. Ia menilai kegagalan produk adalah bagian dari proses pendewasaan industri yang masih perlu terus diawasi.

Bagi konsumen, situasi ini menjadi pengingat bahwa membanjirnya model baru dengan harga kompetitif tidak otomatis menjamin kualitas komponen di dalamnya. Kemampuan produsen menjaga konsistensi kualitas baterai kini menjadi faktor krusial yang menentukan keberlanjutan perkembangan kendaraan listrik China ke depan.

Reporter: Saiful
Sumber: wartaekonomi.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top