KOTAMOBAGU — Cabai rawit merah didatangkan dari Probolinggo–Surabaya melalui program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) dan dijual Rp 57 ribu per kilogram. Antusiasme pembeli membuat seluruh stok habis dalam waktu sekitar dua jam.
Asisten II Setda Pemkot Kotamobagu Noval Manoppo menyebut pasokan tiba dalam 11 karung. Setiap karung berisi 30 kilogram cabai yang kemudian disebar ke 11 titik di dalam Pasar 23 Maret.
"Totalnya 330 kilogram atau 11 karung. Masing-masing 30 kilogram dan dibagi ke 11 titik di dalam Pasar 23 Maret," kata Noval.
Penjualan cabai murah di Kotamobagu berlangsung bersamaan dengan empat pasar lain di Sulawesi Utara. Selain Pasar 23 Maret, distribusi dilakukan di Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan Kota Manado, Pasar Airmadidi Minahasa Utara, serta Pasar 54 Amurang Minahasa Selatan.
Langkah ini digagas Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Utara bersama Bank Indonesia dan Satgas Pangan Polri. Tujuannya menjaga ketersediaan sekaligus mengendalikan harga komoditas pangan di pasar.
Harga Rp 57 ribu per kilogram ditetapkan sebagai bagian dari upaya menghadirkan pasokan dengan harga lebih terjangkau. Komoditas didatangkan langsung dari sentra produksi di Jawa Timur untuk memangkas rantai distribusi.
Tingginya minat pembeli di Pasar 23 Maret menunjukkan kebutuhan terhadap cabai masih cukup tinggi. Pemerintah daerah mendorong penguatan pasokan pangan sebagai instrumen pengendalian inflasi.
Noval menegaskan pemerintah akan terus berkoordinasi dalam menjaga pasokan dan stabilitas harga pangan di Kotamobagu.
Program FDP diharapkan tidak hanya menjaga ketersediaan cabai di pasar. Langkah ini juga diarahkan menekan gejolak harga yang dapat berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat.
Distribusi cabai rawit merah pada Senin pagi itu menjadi salah satu respons cepat atas kebutuhan komoditas yang masih tinggi di wilayah Sulawesi Utara.