SULAWESI UTARA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam 2,64% ke level 5.142 pada sesi siang, Kamis (29/10/2026), setelah sempat dibuka di zona hijau pada 5.305. Tekanan jual mendominasi hampir seluruh papan perdagangan, dengan 623 saham turun berbanding hanya 95 saham yang menguat. Koreksi ini memangkas capaian indeks sepanjang sesi pertama yang sempat menyentuh level tertinggi 5.320.
Bursa Efek Indonesia mencatat pergerakan IHSG berbalik arah secara drastis setelah pembukaan yang positif. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 5.320 pada awal sesi, namun tekanan jual yang datang bertubi-tubi menyeret indeks hingga level terendah 5.135 sebelum parkir di 5.142.
Data perdagangan sesi pertama menunjukkan volume transaksi mencapai 13,9 miliar saham dengan nilai Rp5,8 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat lebih dari 796 ribu kali transaksi, mengindikasikan aktivitas jual yang cukup intens di tengah minimnya tenaga beli.
Struktur pasar pada sesi siang mencerminkan tekanan yang merata. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 623 saham berada di zona merah, sementara 95 saham menguat dan 245 saham stagnan. Rasio saham turun terhadap saham naik mencapai lebih dari 6 banding 1.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa indeks tidak mampu mempertahankan level pembukaan. Tekanan jual yang terkonsentrasi di saham-saham berkapitalisasi besar membuat IHSG kehilangan pijakan, meski sejumlah saham lapis kedua masih mencatat penguatan.
Di tengah derasnya pelemahan, beberapa saham masih mencatat kenaikan signifikan dan masuk jajaran top gainers. Berikut rinciannya:
Penguatan saham-saham tersebut belum cukup menahan laju indeks secara keseluruhan. Bobot kapitalisasi ketiganya relatif kecil dibandingkan tekanan yang berasal dari saham-saham utama.
Penurunan 2,64% dalam satu sesi menempatkan IHSG pada posisi yang perlu dicermati investor. Level 5.142 menjadi titik terendah penutupan sesi siang, setelah sebelumnya indeks bergerak di kisaran 5.300-an.
Bagi pelaku pasar, dominasi saham melemah yang mencapai 623 emiten menandakan tekanan bersifat menyeluruh, bukan hanya terbatas pada sektor tertentu. Nilai transaksi Rp5,8 triliun pada sesi pertama menunjukkan likuiditas tetap berjalan, namun arus dana lebih banyak keluar dari posisi beli.
Investor perlu memantau kelanjutan sesi kedua untuk melihat apakah level 5.135 mampu bertahan sebagai support, mengingat level tersebut menjadi titik terendah harian sejauh ini. Arah pergerakan indeks pada penutupan sore akan menjadi acuan untuk menyusun strategi portofolio jangka pendek.