MINAHASA TENGGARA — Prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas TMMD ke-128 terus memacu pengerjaan fisik di wilayah pedesaan Minahasa Tenggara. Pada Minggu (3/5/2026), personel Kodim 1302/Minahasa terpantau tetap bersiaga di lapangan untuk menyelesaikan pemasangan talud di Desa Watuliney.
Pembangunan dinding penahan tanah ini menjadi salah satu prioritas utama karena kondisi geografis lokasi yang berada di area miring. Tanpa konstruksi yang kokoh, badan jalan di wilayah Kecamatan Belang tersebut rentan tergerus air atau amblas saat musim penghujan tiba.
Mengapa Pembangunan Talud Menjadi Sasaran Krusial?
Lokasi proyek di Desa Watuliney memiliki titik-titik rawan pergeseran tanah yang cukup tinggi. Konstruksi talud sengaja dirancang untuk mengunci struktur tanah agar jalan desa tidak mudah rusak atau tertutup material longsoran dari tebing di sekitarnya.
“Melalui program TMMD ini, fokus kami adalah memberikan manfaat nyata yang langsung dirasakan masyarakat. Dengan talud yang kuat, akses transportasi warga akan lebih aman,” ujar salah satu personel Satgas di sela-sela kegiatannya.
Keberadaan infrastruktur yang stabil diharapkan membuat aktivitas ekonomi sehari-hari, terutama distribusi hasil pertanian, tidak lagi terhambat oleh kendala kerusakan jalan. Keamanan pengendara yang melintasi jalur tersebut kini menjadi prioritas pengerjaan tim di lapangan.
Sinergi TNI dan Warga Percepat Target Fisik
Pantauan di lokasi menunjukkan ritme kerja yang terjaga meski memasuki hari libur. Personel Satgas tampak cekatan menyusun batu demi batu dan merapikan campuran semen agar dinding penahan tanah tersebut memiliki daya tahan jangka panjang.
Aksi lapangan ini juga memperlihatkan semangat gotong royong yang kental antara prajurit dan penduduk setempat. Hubungan harmonis yang terjalin selama proses konstruksi menjadi kunci utama dalam upaya percepatan pembangunan di wilayah pelosok Sulawesi Utara tersebut.
Program TMMD ke-128 di wilayah Kodim 1302/Minahasa ini ditargetkan mampu memberikan dampak signifikan bagi konektivitas antar-desa. Dengan infrastruktur yang lebih mumpuni, mobilitas warga diharapkan menjadi lebih efisien dan aman dari ancaman bencana alam.