SULAWESI UTARA — Pemerintah melalui Kementerian ESDM mulai bergerak mencari solusi atas ketergantungan impor LPG yang mencapai jutaan ton per tahun. Salah satu jawabannya adalah tabung CNG 3 kg yang rencananya akan menjalani uji coba di Indonesia dalam waktu dekat.
Tabung yang diproyeksikan sebagai pengganti LPG 3 kg ini tidak diproduksi sendiri oleh Indonesia. Sejumlah tabung contoh didatangkan dari China untuk keperluan uji coba teknis dan keamanan. Namun, pemerintah sudah menyiapkan PT Pindad sebagai mitra strategis untuk memproduksi tabung serupa di dalam negeri jika uji coba dinyatakan berhasil.
Mengapa CNG Dipilih Jadi Alternatif LPG?
Alasan utamanya adalah efisiensi biaya. CNG atau gas alam terkompresi memiliki harga yang lebih murah dibandingkan LPG yang sebagian besar masih diimpor. Selama ini, subsidi LPG 3 kg menguras Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga puluhan triliun rupiah setiap tahun.
Selain itu, cadangan gas alam Indonesia masih melimpah. Dengan memanfaatkan CNG, pemerintah berharap bisa mengurangi volume impor LPG dan memperkuat ketahanan energi nasional. Tabung CNG 3 kg ini dirancang khusus untuk segmen rumah tangga dan usaha mikro, sama seperti LPG 3 kg yang beredar saat ini.
Peran Pindad dan Rencana Produksi Massal
PT Pindad tidak hanya dikenal sebagai produsen alat utama sistem persenjataan (alutsista), tetapi juga memiliki kapasitas di bidang manufaktur tabung bertekanan tinggi. Pengalaman Pindad memproduksi tabung gas untuk berbagai keperluan industri menjadi modal utama dalam proyek ini.
Jika uji coba berjalan lancar, Pindad akan memproduksi tabung CNG 3 kg secara massal. Langkah ini sejalan dengan program pemerintah yang mendorong penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di sektor energi. Belum ada angka pasti mengenai kapasitas produksi maupun jadwal distribusi, namun Kementerian ESDM menargetkan uji coba bisa dimulai pada tahun ini.
Apa Dampaknya bagi Masyarakat?
Bagi konsumen rumah tangga, peralihan ke CNG 3 kg diharapkan tidak mengubah pola konsumsi secara drastis. Tabung CNG memiliki bentuk dan ukuran yang hampir sama dengan tabung LPG 3 kg, sehingga kompor yang ada saat ini masih bisa digunakan dengan sedikit penyesuaian pada regulator.
Namun, tantangan terbesar ada pada infrastruktur pengisian. Berbeda dengan LPG yang mudah diisi ulang di pangkalan, CNG membutuhkan stasiun pengisian khusus yang saat ini jumlahnya masih terbatas. Pemerintah perlu membangun jaringan SPBG (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas) tambahan untuk mendukung distribusi tabung CNG 3 kg ke seluruh Indonesia.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk melakukan diversifikasi energi dan mengurangi ketergantungan pada LPG impor. Keberhasilan uji coba akan menentukan seberapa cepat masyarakat bisa beralih ke alternatif yang lebih murah dan berbasis sumber daya domestik.