Dewan Kerajinan Nasional Daerah Sulawesi Utara mendorong pelaku UMKM kelapa meningkatkan kualitas produk melalui perbaikan desain, kemasan, branding, hingga digitalisasi agar mampu menembus pasar nasional dan internasional. Dorongan itu disampaikan Ketua Dekranasda Sulut Anik Yulius Selvanus saat membuka Choir Competition serta Pameran Olahan Kelapa dalam rangka World Coconut Day di Manado. Anik menegaskan kelapa Sulawesi Utara harus naik kelas, bukan lagi dijual sebagai bahan mentah.
MANADO — Ketua Dekranasda Sulawesi Utara Anik Yulius Selvanus menyebut peningkatan mutu produk menjadi kunci agar UMKM daerah tidak hanya bertahan di pasar lokal. Lima fokus pembinaan disiapkan: kualitas produk, desain dan kemasan, branding, standardisasi, serta digitalisasi dan perluasan akses pasar.
"Kami mendorong peningkatan kualitas produk, perbaikan desain dan kemasan, branding, standardisasi, hingga digitalisasi dan perluasan akses pasar," ujar Anik saat membuka acara di Manado.
Kelapa Sulut Diminta Tak Lagi Dijual sebagai Bahan Mentah
Anik menekankan produk kerajinan dan industri kreatif berbasis potensi lokal perlu terus dibina agar punya daya saing lebih luas. Menurut dia, produk daerah harus mampu bersaing tidak hanya di pasar lokal, tetapi juga menembus pasar nasional dan internasional.
"Produk kita harus memiliki kualitas yang mampu bersaing, tidak hanya di pasar lokal tetapi juga menembus pasar nasional dan internasional," ujarnya.
Ia menyoroti perubahan yang sudah terjadi di kalangan pelaku usaha. Kelapa yang sebelumnya dijual sebagai komoditas bahan mentah kini diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah.
VCO hingga Kosmetik Sabut Kelapa Tampil di Coconut Expo
Melalui ajang Coconut Expo, inovasi produk pangan dan non-pangan dipamerkan, mulai dari minyak kelapa murni (VCO), santan, gula kelapa, aneka camilan, kosmetik, hingga kerajinan berbahan sabut dan tempurung kelapa.
"Inilah yang menjadi tantangan kita ke depan, yakni memastikan kelapa Sulawesi Utara harus naik kelas," kata Anik.
Ia menegaskan hilirisasi dari hulu ke hilir menjadi arah yang harus dipegang pelaku usaha. Menjual buah mentah atau kopra disebutnya tidak lagi cukup untuk mendongkrak nilai ekonomi kelapa daerah.
"Kita tidak boleh lagi hanya menjual buah mentah atau kopra, melainkan harus fokus pada hilirisasi dari hulu ke hilir," demikian Anik.
Apresiasi untuk Pelaku UMKM hingga Koperasi
Anik memberikan apresiasi kepada seluruh peserta pameran, mulai dari pelaku UMKM, kelompok tani, perajin, koperasi, hingga pelaku ekonomi kreatif. Mereka disebutnya sebagai bagian penting dari ekosistem kelapa di daerah ini.
"Anda semua adalah bagian penting dari ekosistem kelapa di daerah ini," ujarnya.
Rangkaian acara Choir Competition dan Pameran Olahan Kelapa ini menjadi ruang bagi pelaku usaha menunjukkan hasil olahan kelapa yang sudah dikembangkan. Dekranasda Sulut menempatkan pembinaan produk kerajinan dan industri kreatif berbasis potensi lokal sebagai salah satu peran utama lembaga itu.