Bupati Minsel Theodorus Kawatu dan Forkopimda Hadiri Salat Iduladha di Kejari, Bukti Nyata Toleransi Beragama

Penulis: Sutomo  •  Kamis, 28 Mei 2026 | 12:46:09 WIB
Bupati Minsel Theodorus Kawatu dan Forkopimda mengikuti Salat Iduladha bersama di halaman Kejari Amurang.

AMURANG — Momen Salat Iduladha tahun ini di Minahasa Selatan berlangsung berbeda. Lapangan upacara Kejaksaan Negeri Minsel di Amurang berubah menjadi tempat ibadah yang dihadiri tidak hanya oleh umat Muslim, tetapi juga para pejabat daerah dari agama lain. Bupati Theodorus Kawatu, yang beragama Kristen, duduk berdampingan dengan Kapolres, Dandim, dan pimpinan DPRD dalam satu saf.

Bupati dan Forkopimda Duduk Satu Saf dengan Jamaah

Pantauan di lokasi, Bupati Theodorus Kawatu tiba di halaman Kejari Minsel sekitar pukul 06.30 WITA. Ia langsung menyalami para jamaah dan pejabat yang sudah hadir. Tak berselang lama, Kapolres Minsel AKBP S. Soriton, Dandim 1302/Minahasa Letkol Inf. M. E. R. Rengku, serta Ketua DPRD Minsel M. A. T. R. Sendow turut bergabung.

Mereka mengikuti rangkaian salat dan khotbah Iduladha dengan khusyuk. Tidak ada sekat atau pemisahan khusus untuk pejabat. Semua duduk beralaskan sajadah yang sama di atas aspal halaman kantor kejaksaan.

Iduladha Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Simbol Kebersamaan

Suasana semakin hangat saat penyembelihan hewan kurban usai salat. Bupati Theodorus Kawatu terlihat ikut meninjau langsung proses pemotongan sapi kurban di halaman belakang kantor. Ia bahkan menyempatkan diri berbincang dengan panitia dan warga yang membantu proses penyembelihan.

"Ini bukan seremoni. Ini bukti bahwa kami di Minsel benar-benar hidup rukun," ujar Bupati Theodorus Kawatu kepada wartawan usai kegiatan. Ia menambahkan bahwa kehadiran Forkopimda di salat Id adalah bentuk nyata dari komitmen yang selama ini hanya tertulis di dokumen.

Apa yang Membuat Momen Ini Berbeda dari Tahun Lalu?

Yang menarik, kegiatan tahun ini digelar di kantor Kejari, bukan di masjid atau lapangan umum. Kepala Kejari Minsel, yang turut hadir, menyebut pemilihan lokasi ini sengaja untuk menunjukkan bahwa institusi penegak hukum juga menjadi rumah bagi semua golongan.

"Kami ingin Kejari bukan hanya tempat orang berperkara, tapi juga tempat merawat persaudaraan," kata Kepala Kejari Minsel dalam sambutannya sebelum salat dimulai.

Para jamaah yang hadir mengaku terharu. Seorang warga Amurang, Ahmad (45), mengatakan baru kali ini melihat bupati dan seluruh pimpinan daerah duduk bersama di saf salat Id. "Biasanya bupati hanya hadir sebentar, lalu foto bersama. Sekarang beliau ikut salat dari awal sampai khotbah selesai," ujarnya.

Dampak Langsung: Warga Muslim Merasa Diakui

Bagi warga Muslim di Minsel yang merupakan minoritas, kehadiran pejabat non-Muslim di salat Id memiliki arti besar. Mereka merasa keberadaan dan ibadah mereka diakui oleh negara secara konkret.

Bupati Theodorus Kawatu berjanji tradisi ini akan terus berlanjut. "Tahun depan kita cari lokasi yang lebih besar. Mungkin di lapangan kantor bupati," katanya sambil tersenyum.

Setelah penyembelihan, daging kurban langsung didistribusikan ke warga sekitar, termasuk ke kelurahan-kelurahan yang mayoritas penduduknya non-Muslim. Ini menjadi penutup sempurna dari pagi yang penuh simbol toleransi di Minahasa Selatan.

Reporter: Sutomo
Sumber: manadopost.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top