Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.844 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah dan Data Domestik Jadi Beban

Penulis: Saiful  •  Senin, 01 Juni 2026 | 11:01:01 WIB
Rupiah dibuka melemah ke Rp17.844 per dolar AS seiring tekanan dari konflik Timur Tengah dan data domestik.

SULAWESI UTARA — Pagi ini, rupiah bergerak seirama dengan mayoritas mata uang Asia lainnya. Yen Jepang melemah 0,14 persen, baht Thailand turun 0,17 persen, dan won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,71 persen. Dolar Singapura dan dolar Hong Kong juga ikut tertekan, masing-masing melemah 0,11 persen dan 0,01 persen.

Tekanan serupa juga melanda mata uang negara maju. Euro Eropa melemah 0,12 persen, poundsterling Inggris turun 0,01 persen, dan franc Swiss koreksi 0,27 persen. Dolar Australia dan dolar Kanada pun tak luput dari tekanan, melemah masing-masing 0,01 persen dan 0,11 persen.

Dua Faktor Utama yang Menekan Rupiah

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih akan berkonsolidasi dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.800 per dolar AS. Menurutnya, ada dua faktor utama yang saat ini menjadi perhatian investor.

"Investor masih wait and see perkembangan kesepakatan AS-Iran yang masih limbung. Selain itu investor juga mengantisipasi data penting domestik besok yaitu inflasi dan perdagangan," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).

Lukman menambahkan, harga minyak yang sudah menurun bisa menjadi angin segar bagi rupiah ke depannya. Penurunan harga komoditas energi ini berpotensi mengurangi tekanan impor dan memperbaiki neraca perdagangan.

BI: Kebutuhan Valas Meningkat Musiman

Bank Indonesia (BI) mencatat tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh faktor musiman. Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, ada peningkatan kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas.

"Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah," kata Ramdan pada Jumat (29/5).

BI menegaskan komitmennya untuk terus melakukan intervensi guna menjaga stabilitas nilai tukar. "Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," tegas Ramdan.

Apa Arti Pelemahan Ini bagi Investor?

Pelemahan rupiah di atas level psikologis Rp17.800 per dolar AS menjadi sinyal waspada bagi pelaku pasar. Pergerakan ke depan akan sangat bergantung pada hasil data inflasi dan neraca perdagangan yang akan dirilis besok.

Jika data menunjukkan perekonomian domestik masih solid, rupiah berpotensi kembali menguat. Sebaliknya, jika data mengecewakan, tekanan terhadap mata uang Garuda bisa berlanjut. Investor disarankan untuk mencermati perkembangan negosiasi AS-Iran yang masih menjadi sumber ketidakpastian utama di pasar global.

Reporter: Saiful
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top