SULAWESI UTARA — Simon menjelaskan, penyesuaian harga BBM nonsubsidi bukanlah keputusan yang diambil tiba-tiba. Pergerakan harga minyak di pasar internasional serta ketegangan geopolitik yang masih berlangsung menjadi faktor utama yang mendorong perubahan ini.
"Penyesuaian pada harga BBM nonsubsidi dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat," ujar Simon dalam keterangan resmi, Kamis (11/6).
Meski harga BBM nonsubsidi merangkak naik, Pertamina memastikan tidak ada perubahan untuk produk bersubsidi. Harga Pertalite masih dipertahankan di level Rp10.000 per liter, dan Biosolar tetap Rp6.800 per liter.
"Menanggapi perkembangan saat ini terkait harga BBM, perlu kami sampaikan bahwa harga BBM subsidi, yaitu Pertalite dan BioSolar, tidak mengalami perubahan," tegas Simon.
Langkah ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah di tengah tekanan inflasi global.
Simon menambahkan, di tengah gejolak harga energi dunia, Pertamina berkomitmen penuh untuk memastikan pasokan BBM tetap tersedia di seluruh wilayah Indonesia. Perusahaan juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah untuk menjalankan tugas tersebut.
"Di tengah tantangan global yang terus berkembang, Pertamina dengan dukungan penuh dari pemerintah terus berkomitmen menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia," imbuhnya.
Dengan kenaikan ini, konsumen yang menggunakan Pertamax dan Pertamax Green harus merogoh kocek lebih dalam. Namun, bagi pengguna Pertalite dan Biosolar, harga masih terjangkau seperti sebelumnya.