SULAWESI UTARA — Kenaikan ini memutus tren penurunan harga emas Antam yang sempat terjadi dalam beberapa hari terakhir. Bagi investor yang berencana menambah posisi, harga yang lebih tinggi berarti modal yang lebih besar untuk mendapatkan gramasi yang sama. Sementara bagi pemegang emas, harga buyback yang ikut naik menjadi sinyal positif jika ingin mencairkan investasi.
Harga buyback atau harga yang dibayarkan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) saat menjual kembali emas batangan juga naik. Berdasarkan data dari laman Logam Mulia, harga buyback hari ini berada di level Rp 2.661.000 per gram.
Selisih antara harga jual dan harga beli kembali (spread) masih cukup lebar, mencapai Rp 50.000 per gram. Hal ini wajar terjadi karena di dalam harga jual sudah termasuk pajak PPh 22 sebesar 0,9 persen (bagi pemegang NPWP) dan biaya cetak, sementara harga buyback belum memperhitungkan pajak tersebut.
Kenaikan harga emas Antam sejalan dengan pergerakan harga emas global. Di pasar internasional, harga emas spot naik tipis terdorong oleh pelemahan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama.
Sentimen pasar masih dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed). Data klaim pengangguran AS yang dirilis Kamis (12/6) malam menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan, mengindikasikan pasar tenaga kerja masih ketat. Kondisi ini membuat pasar berspekulasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga lebih lama, yang sebenarnya cenderung negatif bagi emas. Namun, pelemahan dolar AS jangka pendek tetap mampu mendorong harga emas naik.
Berikut adalah rincian harga emas batangan Antam untuk pecahan tertentu yang dijual di gerai Logam Mulia:
Harga tersebut sudah termasuk PPh 22 sebesar 0,9 persen. Pemegang NPWP bisa mengajukan pajak lebih rendah, sementara yang belum memiliki NPWP dikenakan tarif PPh 22 sebesar 1,8 persen.
Kenaikan harga hari ini membuat investor dihadapkan pada dua pilihan. Bagi yang sudah memiliki emas, momentum ini bisa dimanfaatkan untuk menjual sebagian posisi jika harga buyback dianggap sudah cukup menguntungkan. Sebaliknya, bagi yang baru ingin membeli, menunggu koreksi harga bisa menjadi alternatif mengingat volatilitas harga emas masih tinggi.
Analis menyarankan investor untuk tidak terjebak dalam keputusan emosional. "Kenaikan Rp 6.000 per gram sebenarnya masih tergolong kecil dalam konteks pergerakan harian emas. Investor sebaiknya fokus pada tren jangka menengah, terutama arah kebijakan suku bunga The Fed," ujar seorang analis komoditas yang enggan disebut namanya.