MANADO — Tim Quick Response-8 Komando Daerah Maritim (Kodaeral) VIII TNI AL bergerak senyap dalam operasi intelijen kilat yang menggagalkan penyelundupan satu ton sianida di perairan utara Sulawesi Utara, Jumat (12/6/2026). Kapal cepat jenis pumpboat ARRIL asal Filipina yang membawa racun perusak ekosistem laut itu berhasil dicegat sebelum mencapai daratan Nusantara.
Untuk mengelabui patroli, ketiga warga negara asing (WNA) itu nekat memasang bendera Merah Putih di kapal mereka. Namun, kecurigaan tim intelijen TNI AL muncul saat kapal melaju dengan kecepatan tinggi di jalur yang tidak biasa pada dini hari. Penyergapan pun dilakukan di titik koordinat yang dirahasiakan, dan petugas menemukan puluhan karung berisi sianida di lambung kapal.
Dalam ekspose yang digelar di Joglo Makodaeral VIII, Manado pada Sabtu (13/6/2026), Komandan Kodaeral VIII Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi memamerkan langsung deretan barang bukti. Total 20 karung sianida siap edar, tiga unit motor tempel Yamada 18 PK, serta ratusan botol minuman keras selundupan berbagai merek turut diamankan.
“Ini bukan sekadar angka atau kerugian materi. Satu ton sianida ini adalah ancaman nyata bagi kelestarian laut kita, sumber nafkah nelayan kita, dan keamanan nasional. TNI AL tidak akan membiarkan sejengkal pun laut kita dirusak oleh tangan-tangan asing,” tegas Laksda TNI Dery dalam siaran pers, Minggu (14/6/2026).
Berdasarkan estimasi sementara TNI AL, penyelundupan ini berpotensi merugikan negara senilai lebih dari Rp1 miliar. Angka itu dihitung dari nilai sianida, motor tempel, dan ribuan botol miras ilegal yang siap diedarkan di pasar gelap Sulawesi Utara. Sinergi antara TNI AL, Badan Intelijen Negara Daerah (Binda), dan Bea Cukai Sulut menjadi kunci penggagalan aksi ini.
Hingga berita ini diturunkan, ketiga awak kapal berkewarganegaraan Filipina masih menjalani pemeriksaan intensif di Markas Kodaeral VIII. Mereka dijerat dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dan Undang-Undang Karantina, serta dugaan tindak pidana penyelundupan barang berbahaya. TNI AL memastikan akan memperketat pengawasan di perbatasan laut utara Indonesia menyusul temuan ini.
Operasi ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali untuk menjaga laut dengan radar kewaspadaan tertinggi. “Di setiap ombak yang dijaga, ada kedaulatan bangsa yang sedang dipertaruhkan,” demikian penegasan Dankodaeral VIII. (*/aga)