MINAHASA TENGGARA — Ahlan Riandi Lamusu tidak memulai karier kreator digital dari kota besar. Pemuda yang akrab disapa Ahlan ini tumbuh dan mengasah kemampuannya di Desa Bentenan Satu, Kabupaten Minahasa Tenggara. Dari kampung halaman inilah ia merintis personal branding yang kini dikenal di platform TikTok.
Lahir di Langowan pada 23 September 2001, Ahlan memanfaatkan akses internet yang terbatas di daerahnya untuk belajar membuat konten. Ia mempelajari algoritma TikTok secara otodidak, mulai dari teknik editing sederhana hingga strategi membangun engagement dengan audiens.
Keputusannya untuk tetap berkarya dari Minahasa Tenggara justru menjadi nilai tambah. Konten-konten yang ia buat sering mengangkat keseharian masyarakat Sulawesi Utara, dari kuliner lokal hingga pemandangan alam di kampung halaman.
Ahlan tidak sekadar membuat video viral. Ia secara konsisten membangun citra sebagai kreator yang autentik dan dekat dengan pengikutnya. Pendekatan ini membuat akun TikTok-nya tumbuh organik tanpa bergantung pada tren sesaat.
“Saya ingin menunjukkan bahwa anak daerah bisa berkarya dan diakui secara nasional. Kuncinya konsisten dan jujur pada diri sendiri,” kata Ahlan dalam pernyataannya baru-baru ini.
Perjalanan Ahlan menjadi contoh bagi generasi muda di Sulawesi Utara yang ingin menekuni profesi kreator digital. Ia membuktikan bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk bersaing di industri konten yang semakin kompetitif.
Minahasa Tenggara sendiri memiliki potensi besar dalam sumber daya manusia kreatif. Dengan dukungan infrastruktur digital yang terus membaik, peluang bagi kreator seperti Ahlan untuk berkembang semakin terbuka lebar.
Ke depan, Ahlan berencana memperluas jangkauan kontennya ke platform lain dan mulai menjajaki kerja sama dengan merek-merek lokal di Sulawesi Utara. Langkah ini diharapkan bisa menginspirasi lebih banyak anak muda di daerah untuk berani memulai.