Pertamina EP Latih Pelajar Jadi Penolong Pertama Saat Darurat, Ini yang Diajarkan

Penulis: Fajar  •  Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:09:31 WIB
Pelajar mempraktikkan teknik evakuasi korban dalam pelatihan pertolongan pertama yang digelar Pertamina EP di Sulawesi Utara.

SULAWESI UTARA — Beberapa menit pertama setelah kecelakaan atau musibah sering kali menjadi penentu hidup atau mati seseorang. Sayangnya, keterampilan dasar untuk menolong korban justru jarang dimiliki masyarakat umum. Kondisi inilah yang coba dijawab Pertamina EP lewat program pelatihan bertahan hidup yang menyasar pelajar dan generasi muda.

Inisiatif ini lahir dari keprihatinan bahwa respons awal yang salah justru bisa memperburuk kondisi korban. Alih-alih menunggu ambulans atau petugas medis yang mungkin butuh waktu tiba, para peserta dilatih mengambil tindakan cepat dan tepat di lokasi kejadian.

Bekal Pertolongan Pertama yang Langsung Dipraktikkan

Materi pelatihan tidak berhenti pada teori di dalam ruangan. Peserta diajak mempraktikkan langsung teknik evakuasi, penanganan luka, hingga stabilisasi kondisi korban sebelum dibawa ke fasilitas kesehatan. Pendekatan ini dipilih agar rasa percaya diri peserta tumbuh ketika menghadapi situasi nyata.

Pelatihan ini juga menekankan aspek keselamatan diri penolong. Sebab, tanpa pengetahuan yang memadai, niat menolong justru bisa berakhir dengan bertambahnya korban. Para instruktur memastikan setiap peserta memahami cara menilai situasi sebelum bertindak.

Generasi muda menjadi sasaran utama program ini. Pertamina EP menilai anak muda lebih cepat menyerap keterampilan baru dan bisa menjadi agen perubahan di lingkungan sekitarnya. Harapannya, ilmu yang didapat tidak berhenti di peserta, melainkan menular ke keluarga dan teman sebaya.

Membangun Budaya Siaga Bencana Sejak Dini

Program ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan di bidang pendidikan dan kesiapsiagaan bencana. Pertamina EP tidak hanya berfokus pada kegiatan operasional hulu migas, tetapi juga membangun ketahanan masyarakat di wilayah kerjanya.

Dengan membekali generasi muda keterampilan penyelamatan, perusahaan turut memperkuat ekosistem kebencanaan nasional yang selama ini bertumpu pada pemerintah. Masyarakat yang terlatih menjadi garda terdepan yang bisa diandalkan ketika infrastruktur darurat belum sepenuhnya menjangkau lokasi kejadian.

Inisiatif ini sejalan dengan praktik keselamatan kerja di industri migas yang mengedepankan aspek HSSE (Health, Safety, Security, and Environment). Nilai-nilai tersebut ditularkan kepada masyarakat luas, bukan hanya berlaku di lingkungan operasi perusahaan.

Ke depan, Pertamina EP berencana memperluas jangkauan pelatihan ke lebih banyak sekolah dan komunitas. Semakin banyak warga yang terlatih, semakin besar pula peluang korban selamat dalam situasi darurat. Ini bukan sekadar program seremonial, melainkan investasi jangka panjang untuk ketangguhan masyarakat Indonesia.

Reporter: Fajar
Sumber: ekonomi.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top