SULAWESI UTARA — Jim Coles bukan orang baru di industri ini. Kariernya dimulai di Caterpillar pada 1966, lalu ia membuka dealer Peterbilt pada 1973 dan mengembangkannya hingga 18 lokasi. Pengalaman setengah abad itu membuat pandangannya soal mesin diesel patut diperhitungkan, jauh dari sekadar opini warganet di grup Facebook.
Dalam video berdurasi 25 menit yang diunggah kanal YouTube Earthmoving Legacy Center, Coles membeberkan alasan teknis mengapa pabrikan seperti Caterpillar lebih percaya pada inline-6. Menurutnya, konfigurasi ini secara alami seimbang dan lebih sederhana dalam hal pendinginan.
Coles menjelaskan bahwa inline-6 menawarkan keseimbangan internal yang tidak dimiliki mesin V. "V's versus sixes were always more of a compromised design," katanya, merujuk pada desain V yang menurutnya selalu kompromistis.
Kelebihan lain yang ia soroti adalah kemudahan dalam pemasangan komponen tambahan. Saat turbocharger atau perangkat emisi mulai menjadi tuntutan regulasi, inline-6 menjadi "kanvas" yang jauh lebih baik untuk dikerjakan. Ruang yang lega di antara silinder memudahkan teknisi dan insinyur dalam merancang tata letak mesin.
Sebagai bukti nyata, Coles menyebut keluarga mesin Caterpillar 3406. Mesin 14,6 liter (893 inci kubik) ini diproduksi dari 1973 hingga 2007—lebih dari tiga dekade. Di internal Caterpillar, mesin ini disebut VITEL, singkatan dari "vehicle industrial truck engine line."
Mesin ini dipakai di berbagai sektor: alat berat tambang, aplikasi stasioner, lingkungan kelautan, hingga truk semi. "Whether it was being deployed in earth-moving equipment, stationary applications, marine environments, semi-trucks, or whatever else, it was a rockstar," ujarnya.
Coles tidak ragu menunjuk kegagalan mesin V8 diesel di pasar. Ia menyebut beberapa nama yang dulu populer namun kini hilang: Cummins 903 dan 555, Caterpillar 3208, serta Detroit 8V71 dan 8V92. "All those V engines are gone. Nobody's in the V business today, and rightfully so," tegasnya.
Menariknya, ia juga menegaskan bahwa inline-6 saat ini mampu menembus tenaga hingga 1.100 hp. "If you'll notice today, sixes are all the way up to covering 1,100 hp," lanjut Coles. Ini menunjukkan bahwa mesin segaris tidak hanya unggul dalam hal keandalan, tetapi juga punya potensi tenaga yang besar.
Bagi pengguna kendaraan niaga di Indonesia yang kerap dihadapkan pada pilihan antara mesin V8 dan inline-6, pandangan Coles ini bisa menjadi bahan pertimbangan. Meski pasar truk besar Tanah Air masih didominasi inline-6 dari merek seperti Hino, Mitsubishi Fuso, dan Volvo, argumen teknis dari mantan insinyur CAT ini memperkuat alasan mengapa konfigurasi tersebut menjadi pilihan utama untuk pekerjaan berat.