SULAWESI UTARA — Kami berkesempatan mengikuti sesi test ride singkat di sekitar Jayapura, Papua, pada Senin (10/8/2026) bersama Astra Motor Papua. Perlu dicatat, ini adalah kesan pertama, bukan pengujian jangka panjang. Rute yang dilalui campuran aspal halus dan beberapa ruas bergelombang khas kota—cukup untuk merasakan karakter mesin dan posisi berkendara, tapi belum cukup untuk menguji konsumsi BBM atau durabilitas suspensi.
Secara visual, perubahan paling mencolok ada di wajah depan. Lampu LED kini menyipit dengan DRL yang membentuk garis tegas, membuatnya tampak jauh lebih garang daripada Vario 160 generasi sebelumnya. Bagian buritan juga diubah dengan stoplamp yang lebih ramping, memberi kesan body yang lebih compact—meski sebenarnya dimensi hampir sama.
Honda mengklaim bobot turun signifikan dari 117 kg menjadi 113 kg untuk tipe CBS. Saat didorong mundur dan saat bermanuver di kecepatan rendah, pengurangan ini langsung terasa. Ini nilai jual utama yang jarang disebut di brosur: skutik premium biasanya terasa berat di parkiran, dan Vario EVO 160 berhasil menghilangkan kesan itu.
Mesin eSP+ 160cc masih sama secara basis dengan pendahulunya, tapi Honda mengklaim ubahan pada ECU dan intake menghasilkan respons throttle yang lebih spontan. Dari pengalaman test ride, tenaga terasa naik lebih cepat dari 20-60 km/jam—area yang paling sering dipakai di lalu lintas perkotaan. Klaim akselerasi 0-200 meter dalam 11,9 detik dan top speed 109 km/jam terasa realistis, bukan angka marketing semata.
Getaran di handlebar masih terasa halus hingga 80 km/jam. Baru setelah melewati 90 km/jam, getaran halus mulai terasa di footstep—masih dalam batas wajar untuk skutik 160cc. Transmisi CVT bekerja mulus tanpa gejala "shudder" saat start dari posisi diam.
Setang yang lebih tinggi dan posisi footstep yang sedikit diubah membuat postur berkendara lebih tegak. Untuk pengendara dengan tinggi 170 cm, lutut tidak lagi menekuk terlalu tajam—ini perbaikan ergonomis yang jarang dibahas. Jok tetap empuk dengan busa yang cukup tebal, dan ruang bagasi 18 liter cukup untuk satu helm half-face plus jas hujan.
Fitur unggulan ada di tipe ABS yang kini mendapat warna baru Ultimate Matte Purple. Sayangnya, panel instrumen masih full LCD monokrom—bukan TFT berwarna seperti kompetitor di kelas harga yang sama. Ini salah satu kekurangan yang perlu dipertimbangkan jika kamu menginginkan konektivitas smartphone dan navigasi dari pabrikan.
Selisih Rp 3 juta untuk upgrade ke ABS terasa masuk akal, mengingat sistem pengereman adalah fitur keselamatan yang tidak bisa ditambahkan setelah pembelian. Namun, perlu dicatat bahwa di angka Rp 37,3 juta, kamu sudah bisa mendapatkan Yamaha Aerox 155 Connected yang punya layar TFT dan konektivitas penuh. Pilihan kembali lagi pada prioritas: sistem pengereman lebih aman (Vario) versus fitur teknologi (Aerox).
Pertama, ketersediaan warna baru Ultimate Matte Purple hanya untuk tipe ABS—jika kamu menginginkan warna tersebut, wajib merogoh kocek lebih dalam. Kedua, ban bawaan masih tipe standar yang cukup licin di aspal basah; kami sarankan upgrade ke ban sport touring untuk rasa percaya diri ekstra. Ketiga, meski bobot turun, kapasitas tangki bensin tetap 5,5 liter—sedikit di bawah Aerox yang 5,5 liter juga, tapi masih kalah dari PCX160 yang 8,1 liter.
Vario EVO 160 adalah pilihan tepat untuk kamu yang menginginkan skutik 160cc paling ringan dan lincah di kelasnya, dengan mesin yang sudah terbukti irit. Bobot 113 kg membuatnya gampang dikendalikan di kemacetan dan parkiran sempit. Namun, jika kamu menginginkan fitur layar TFT, konektivitas, atau bagasi lebih besar, ada baiknya melihat kompetitor lain sebelum memutuskan.
Untuk pengguna yang setiap hari berkendara di dalam kota dan mengutamakan kelincahan, Vario EVO 160 adalah pilihan yang sangat sulit ditolak. Untuk kamu yang sering touring jarak jauh atau butuh fitur teknologi terkini, sebaiknya tunggu review jangka panjang kami—atau pertimbangkan Aerox 155 Connected.