SULAWESI UTARA — Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto. Ia menyatakan proses pemanasan atau inreyen tengah berjalan dan ditargetkan rampung dalam hitungan jam.
"Setelah Jumat kemarin dilaksanakan sertijab Dirut MCTN, akhirnya subuh tadi jam 04.54 Pembangkit Listrik MCTN hidup dan saat ini sedang inreyen (pemanasan)," ujar Djoko dalam keterangannya, Jumat (14/8) dini hari.
Djoko menambahkan, jika proses pemanasan berjalan mulus, pembangkit akan beroperasi penuh mulai Sabtu. Ia menegaskan momen ini adalah kunci bagi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) untuk menggenjot produksi di lapangan tua tersebut.
Dengan pasokan listrik yang stabil, PHR bakal langsung mengaktifkan kembali ribuan pompa angguk yang terhenti selama turbin rusak. Lebih dari itu, pasokan uap (steam) untuk proyek Enhanced Oil Recovery (EOR) di Lapangan Duri juga bisa segera dialirkan.
"Mohon doa semoga lancar sehingga besok bisa gas poll steam untuk EOR Duri, operasi steam flood mulai produksi, pompa-pompa angguk mulai hidup, produksi PHR mulai naik," ungkap Djoko penuh harap.
Keandalan pembangkit MCTN bukan sekadar soal penerangan. Di Lapangan Duri, listrik dan uap adalah nyawa dari operasi produksi minyak bumi.
Metode steam flood yang digunakan PHR membutuhkan uap bertekanan tinggi untuk memanaskan minyak berat agar lebih encer dan mudah diangkat ke permukaan. Tanpa pasokan uap yang konsisten, sumur-sumur produksi otomatis berhenti beroperasi.
Oleh karena itu, kembalinya PLTG MCTN setelah masa perbaikan turbin menjadi penentu utama target produksi PHR di semester kedua tahun ini. Operasional yang stabil di Blok Rokan juga berkontribusi signifikan terhadap capaian produksi minyak nasional.