SULAWESI UTARA — Pemutakhiran data ini disampaikan BMKG setelah melakukan analisis ulang terhadap data seismograf di sejumlah stasiun pencatat. Koreksi magnitudo ini merupakan prosedur standar yang dilakukan BMKG untuk memastikan akurasi informasi kebencanaan, terutama setelah data gelombang seismik lengkap terekam.
Dampak Guncangan di Sejumlah Wilayah
Meski kekuatan gempa terkoreksi lebih rendah dari estimasi awal, dampak guncangan tetap signifikan. BMKG mencatat getaran terasa kuat di wilayah pesisir Nagekeo dan kabupaten sekitarnya di Pulau Flores. Skala intensitas di daerah terdampak diperkirakan mencapai IV hingga V MMI, yang berarti guncangan dirasakan nyata di dalam rumah hingga menyebabkan beberapa benda tergantung bergoyang.
Di luar NTT, guncangan dilaporkan terasa oleh warga di Kota Makassar yang berjarak lebih dari 500 kilometer dari pusat gempa. Hal serupa juga dialami warga di Denpasar, Bali, menunjukkan energi gempa yang cukup besar untuk merambat hingga ke wilayah barat Indonesia bagian tengah.
Potensi Risiko dan Imbauan BMKG
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangan resminya menegaskan bahwa gempa ini merupakan jenis gempa dangkal akibat aktivitas sesar aktif di darat. "Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser (strike-slip)," ujarnya.
Atas dasar mekanisme tersebut, BMKG memastikan bahwa gempa Nagekeo ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Namun demikian, masyarakat di sekitar lokasi diimbau tetap waspada terhadap potensi gempa susulan yang kekuatannya biasanya lebih kecil dari gempa utama.
Mengapa Parameter Gempa Sering Mengalami Pembaruan?
Proses penentuan magnitudo oleh BMKG melalui beberapa tahap. Pada menit-menit awal setelah kejadian, BMKG mengeluarkan informasi cepat berdasarkan data dari stasiun yang terbatas. Seiring bertambahnya data yang masuk dari lebih banyak stasiun pencatat di seluruh Indonesia, perhitungan ulang dilakukan untuk mendapatkan parameter yang lebih presisi.
Perbedaan hasil antara estimasi awal dan akhir ini merupakan hal yang lumrah dalam ilmu kegempaan dan menjadi bagian dari upaya BMKG menghadirkan data akurat bagi publik dan instansi terkait. Pembaruan ini juga penting untuk kajian mitigasi dan analisis risiko pascagempa oleh pemerintah daerah setempat.